JAKARTA – Ketika keputusan militer di Timur Tengah diambil, dampaknya tak hanya terasa di medan perang. Di Washington, riaknya juga mulai terasa di ruang politik dan ekonomi domestik Amerika.
Presiden Donald Trump kini menghadapi situasi yang tidak sederhana setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memanas sejak akhir Februari 2026.
Serangan militer yang diluncurkan bersama Israel terhadap target di Iran memicu rangkaian balasan dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut segera menimbulkan efek domino terhadap ekonomi global, terutama pada sektor energi.
Harga minyak dunia langsung melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama jalur vital Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Lonjakan harga energi ini kemudian ikut mengguncang pasar keuangan Amerika.
Di Wall Street, indeks saham sempat tergelincir karena investor khawatir perang bisa berlangsung lama dan memicu gejolak ekonomi global.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik Amerika juga sedang tidak sepenuhnya stabil. Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pasar kerja kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan pada Februari 2026, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen.
Situasi ini membuat konflik dengan Iran menjadi isu sensitif di dalam negeri. Para ekonom memperingatkan bahwa jika perang berlangsung lama dan harga energi terus naik, dampaknya bisa terasa langsung pada inflasi, biaya hidup, hingga kepercayaan dunia usaha.
Bagi Trump, perang ini bukan hanya soal strategi militer. Ia juga menghadapi tekanan politik dari dalam negeri yang menuntut stabilitas ekonomi di tengah kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian pasar.
Sebagian analis menilai konflik ini menjadi ujian besar bagi pemerintahan Trump: apakah operasi militer dapat cepat diselesaikan, atau justru berubah menjadi konflik berkepanjangan yang menguras anggaran dan memicu gejolak ekonomi.
Di tengah situasi itu, Amerika kembali dihadapkan pada dilema klasik sebuah negara adidaya: menjaga kepentingan geopolitik di luar negeri, sambil tetap memastikan stabilitas ekonomi dan politik di dalam negeri.






