Negara Harus Hadir, Pembajakan Honour 25 Uji Ketegasan Internasional - Plus62.co

Negara Harus Hadir, Pembajakan Honour 25 Uji Ketegasan Internasional

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Pembajakan kapal tanker Honour 25 di perairan sejak 21 April 2026 menjadi ujian nyata bagi kehadiran negara dalam melindungi warganya di jalur pelayaran internasional. Insiden ini melibatkan awak multinasional, termasuk warga negara Indonesia (WNI).

Kapal berbendera itu disergap kelompok bersenjata saat berlayar dari menuju dengan muatan 18.500 barel minyak. Hingga kini, kapal masih diduga berada dalam penguasaan pembajak di pesisir Somalia.

Baca Juga :  Andai Nuklir Menghantam Iran: Dunia Tak Lagi Sama

Sebanyak 17 awak berada di dalam kapal, terdiri dari empat WNI, 10 warga , serta masing-masing satu orang dari , , dan . Nahkoda kapal dilaporkan WNI asal Sulawesi Selatan.

Praktisi maritim menegaskan, kondisi ini tidak bisa hanya mengandalkan negosiasi atau mekanisme pasar seperti pembayaran tebusan. Menurutnya, kehadiran negara menjadi faktor penentu.

“Negara tidak boleh absen. Ini menyangkut keselamatan warga negara dan kedaulatan di ruang global. Tanpa intervensi negara, kasus seperti ini akan terus berulang,” ujarnya.

Baca Juga :  Putin Usulkan Perundingan dengan Ukraina pada 15 Mei di Istanbul

Secara hukum internasional, sebagai negara bendera memiliki tanggung jawab utama, sementara memegang yurisdiksi wilayah. Namun, keterbatasan kapasitas membuat peran negara-negara asal awak menjadi krusial.

, bersama , , , dan , didorong mengambil langkah aktif—baik melalui jalur diplomasi, tekanan internasional, maupun opsi operasi bersama.

Selain itu, keterlibatan kekuatan internasional, termasuk misi keamanan maritim yang telah beroperasi di kawasan Tanduk Afrika, dinilai perlu diperkuat untuk merespons cepat situasi pembajakan.

Baca Juga :  Ambisi Trump atas Greenland Picu Ketegangan di Arktik

“Kerja sama militer dan diplomatik lintas negara harus dikedepankan. Aspek kemanusiaan menjadi prioritas, tetapi penegakan hukum juga tidak boleh diabaikan,” kata Dedi.

Insiden ini menegaskan bahwa keamanan jalur pelayaran global tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar semata. Kehadiran negara, baik secara individu maupun kolektif, menjadi kunci dalam menjamin keselamatan awak kapal dan stabilitas maritim internasional.

Berita Terkait

Beatrice Gobang Bawa Tembang Indonesia ke New York
Profesi Bergaji Fantastis Rp5 Miliar, Tapi Setiap Detiknya Menghadapi Kematian
Pernyataan Jurnalis Alon Mizrahi Soroti Ketegangan AS–Iran
Amerika, Iran, dan Bayang-Bayang Nuklir
Di Balik Serangan ke Iran, Trump Hadapi Ujian Berat di Dalam Negeri
Di Bawah Tekanan Sanksi, Iran Disebut Manfaatkan Kripto untuk Bertahan
Andai Nuklir Menghantam Iran: Dunia Tak Lagi Sama
Situasi Keamanan Bahrain Dalam Pemantauan Usai Ketegangan Iran–AS

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:13 WIB

Negara Harus Hadir, Pembajakan Honour 25 Uji Ketegasan Internasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:19 WIB

Beatrice Gobang Bawa Tembang Indonesia ke New York

Minggu, 8 Maret 2026 - 20:58 WIB

Profesi Bergaji Fantastis Rp5 Miliar, Tapi Setiap Detiknya Menghadapi Kematian

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:00 WIB

Pernyataan Jurnalis Alon Mizrahi Soroti Ketegangan AS–Iran

Sabtu, 7 Maret 2026 - 13:14 WIB

Amerika, Iran, dan Bayang-Bayang Nuklir

Berita Terbaru

Megapolitan

Transformasi KLASICK: Merajut Silaturahmi Menguatkan Visi

Senin, 15 Jun 2026 - 10:45 WIB