Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa - Plus62.co

Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BUDAYA – Malam Jawa tak selalu sunyi. Ada masa ketika tanah ini dipercaya belum mau ditinggali manusia. Hutan berdiri rapat seperti dinding. Gunung memancarkan panas yang tak kasat mata. Di sela angin, orang-orang tua menyebut: Jawa dulu liar.


Dalam kisah-kisah tutur itulah nama Syekh Subachir muncul. Ia bukan raja. Bukan wali. Ia hadir sebagai sosok awal—penata, bukan penguasa.


Syekh Subachir diyakini datang sebelum zaman kerajaan. Sebelum dakwah para wali. Dalam kepercayaan Jawa, ia adalah utusan spiritual yang diturunkan untuk menjinakkan energi tanah.

Baca Juga :  Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah


Bukan dengan kekerasan.
Melainkan dengan laku.


Ia berkeliling ke titik-titik yang kini dianggap keramat: gunung, alas tua, dan simpul bumi. Di tempat-tempat itu, doa ditanam. Rajah dititipkan. Energi yang liar diikat agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Salah satu titik terpenting adalah Gunung Tidar, Magelang.


Gunung ini dipercaya sebagai paku tanah Jawa. Penahan agar pulau ini tidak “bergerak” secara gaib. Di sanalah, menurut kisah, Syekh Subachir menjalani tapa sunyi. Tanpa suara. Tanpa api. Hanya doa yang bekerja di dalam tanah.

Baca Juga :  RBPI Respon Kecelakaan Maut Yang Melibatkan Truk Di GT Ciawi 2 : Perusahaan Harus Bertanggung Jawab


Sejak saat itu, Jawa dianggap berubah.
Lebih ramah. Lebih tenang.
Namun tidak semua kekuatan tunduk. Beberapa disebut menolak, lalu “dipindahkan”. Ada yang dilempar ke laut. Ada yang dikunci di wilayah tertentu. Dari sanalah, sebagian tempat angker dipercaya berasal—bukan karena jahat, tapi karena menyimpan sejarah penolakan.


Nama Syekh Subachir hingga kini masih dijaga dalam laku spiritual tertentu. Tidak disebut sembarangan. Tidak dipanggil untuk kepentingan duniawi. Ia dikenang sebagai pengingat batas: bahwa manusia hidup di atas tanah yang pernah bergolak.
Bagi sebagian orang, Syekh Subachir adalah mitos.

Baca Juga :  Korlantas Polri Akan Menggelar Operasi Patuh Pada 14 Juli 2025


Bagi yang lain, ia adalah fase penting kosmologi Jawa.


Di antara gunung, doa, dan tanah yang diam, kisahnya terus berdenyut. Tidak tercatat di prasasti. Tidak tercetak di kitab resmi. Tapi hidup di ingatan kolektif—pelan, gelap, dan bertahan.


Seperti Jawa itu sendiri.

Berita Terkait

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi
Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah
Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers
Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga
Wartawan: Ketika Idealisme Tunduk pada Kebutuhan
‎Ahmad Alfan Sah Jadi Ketua Pk Kecamatan Sindang Jaya Partai Golongan Karya Kabupaten Tangerang
Wakil Wali Kota Jakpus Pimpin Penertiban Rumah Dinas PAM Jaya

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 23:13 WIB

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data

Senin, 20 Juli 2026 - 13:16 WIB

Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:53 WIB

Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga

Berita Terbaru

Megapolitan

TNI AL Gagalkan Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair di Perairan Kepri

Sabtu, 22 Agu 2026 - 06:47 WIB