Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris - Plus62.co

Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris

- Jurnalis

Rabu, 4 Maret 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anda Kenal Abdul Karim Qasim?
Oleh: Ismail Amin

Banyak orang mungkin tak mengenalnya. Namanya seperti sengaja ditenggelamkan dari percakapan sejarah global. Padahal, dalam lima tahun kekuasaan, ia mengguncang fondasi politik Irak.

adalah jenderal militer yang memimpin . Ia menggulingkan monarki Hasyimiyah yang berkuasa selama 37 tahun dan mendeklarasikan Republik Irak pada 1958. Rezim yang didukung Inggris itu runtuh dalam satu pagi yang menentukan.

Qasim menjadi Perdana Menteri Irak dari 1958 hingga 1963. Waktunya singkat. Tapi kebijakannya tajam.

Ia menerbitkan Undang-Undang Reformasi Agraria. Tanah-tanah luas didistribusikan kepada petani. Skema bagi hasil diatur ulang: 70 persen untuk penggarap, 30 persen untuk pemilik lahan. Dominasi elite lama dipangkas.

Anggaran pendidikan hampir dilipatgandakan. Sekolah-sekolah tumbuh. Ia juga menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, terutama sektor minyak. Negara mengambil alih 99,5 persen keuntungan. Dana itu dipakai membangun perumahan rakyat dan menggratiskan pendidikan.

Baca Juga :  Gempa 4,9 SR Guncang Jawa Barat, Warga Panik

Langkah ini membuatnya tak disukai kekuatan Barat.

Di bidang sosial, kebijakannya lebih radikal lagi. Irak menjadi salah satu negara Arab pertama yang memperluas hak politik perempuan. Poligami dibatasi ketat. Pernikahan usia dini dilarang dengan penetapan batas minimum umur. Perempuan mendapat perlindungan hukum dalam perceraian dan hak waris yang lebih setara. Kebijakan ini menuai resistensi dari kalangan ulama konservatif.

Qasim mengagumi . Ia kerap menyebut nama Presiden Indonesia itu dalam pidatonya sebagai inspirasi anti-imperialisme dan kemandirian nasional.

Tahun 1960, Soekarno berkunjung ke Baghdad. Sambutannya luar biasa. Rakyat turun ke jalan. Sejarawan Irak mencatat, belum ada kepala negara asing yang disambut semeriah itu.

Baca Juga :  Ketua Pokja Wartawan Gunung Kaler Kecam Dugaan Pembohongan dan Kekerasan terhadap Jurnalis di Dinas Perkim Tangerang

Soekarno membawa bibit ikan mas dari Indonesia dan menebarkannya di Sungai Tigris. Ikan itu kemudian populer dengan sebutan “Ikan Soekarno” di sejumlah restoran Baghdad. Simbol persahabatan dua bangsa.

Namun politik tak pernah sederhana.

Dari 16 menterinya, sebagian berasal dari Partai Baath. Pada 1963, elemen militer dan Baath melancarkan kudeta berdarah. Qasim ditangkap dan ditembak. Jenazahnya dikubur secara rahasia.

kerap disebut dalam berbagai analisis sebagai pihak yang mengetahui atau mendukung dinamika penggulingan tersebut, meski perdebatan sejarah terus berlangsung.

Setelah berkuasa, memori tentang Qasim makin ditekan. Loyalisnya diburu. Banyak dituduh komunis. Nama Qasim dipinggirkan dari narasi resmi negara.

Baca Juga :  Diduga Alami Epilepsi, Pria Jatuh ke Kali Cengkareng Saat Sedang Makan di Tepi Kali

Baru setelah rezim Baath runtuh pada 2003, ingatan tentangnya muncul kembali. Makamnya ditemukan pada 2005. Sebuah patung didirikan di Jalan al-Rasyid, Baghdad, mengenang Revolusi 14 Juli.

Di monumen itu terukir puisi tentang revolusi, tentang matahari yang terbit setelah gelap panjang. Simbol yang dulu juga hadir dalam bendera Irak era Qasim—matahari Mesopotamia—yang hanya berkibar selama lima tahun masa pemerintahannya.

Sejarah mencatatnya dengan perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai populis progresif. Sebagian lain menilainya naif dalam mengelola kekuatan politik.

Namun satu hal pasti: dalam waktu singkat, Abdul Karim Qasim pernah mencoba mengubah arah Irak—dengan nasionalisme, reformasi sosial, dan keberanian menantang dominasi asing.

Selebihnya, sejarah yang menilai.

Berita Terkait

Kekerasan Seksual di Pesantren Berulang, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai ke Jakarta, Pramono Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada
Dugaan Kekerasan Dua Anak di Pemalang Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Desak Terlapor Segera Ditahan
Pembuatan Biopori di Taman Jalan Permata Tegal Alur sebagai Upaya Pengelolaan Lingkungan
3 Pemuda di Kapuk Menjadi Korban Penganiayaan oleh OTK, 1 Orang Dibacok Tangan nyaris Putus
Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan, Timbulkan Kerusakan Lingkungan dan Habitat Satwa
Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi
Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 07:50 WIB

Kekerasan Seksual di Pesantren Berulang, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Minggu, 6 September 2026 - 17:58 WIB

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai ke Jakarta, Pramono Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada

Sabtu, 5 September 2026 - 09:25 WIB

Dugaan Kekerasan Dua Anak di Pemalang Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Desak Terlapor Segera Ditahan

Jumat, 4 September 2026 - 13:27 WIB

Pembuatan Biopori di Taman Jalan Permata Tegal Alur sebagai Upaya Pengelolaan Lingkungan

Jumat, 4 September 2026 - 08:35 WIB

3 Pemuda di Kapuk Menjadi Korban Penganiayaan oleh OTK, 1 Orang Dibacok Tangan nyaris Putus

Berita Terbaru

Megapolitan

Letjen Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu

Rabu, 7 Okt 2026 - 17:31 WIB

Megapolitan

UKW PWI Jaya ke-66 Selesai, 20 Wartawan Kompeten

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:42 WIB