Dari Pintu Rekrutmen yang Kotor, Lahir Pejabat yang Haus Balik Modal - Plus62.co

Dari Pintu Rekrutmen yang Kotor, Lahir Pejabat yang Haus Balik Modal

- Jurnalis

Minggu, 8 Maret 2026 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI – Mahalnya biaya sogok untuk jadi ASN dan mahalnya ongkos politik untuk merebut jabatan pada akhirnya melahirkan birokrasi dan politik yang rusak sejak dari pintu masuknya. Kalau untuk menjadi aparatur negara saja harus keluar uang puluhan hingga ratusan juta rupiah, lalu untuk maju dalam kontestasi politik harus menghabiskan miliaran, maka jangan heran jika setelah duduk di kursi kekuasaan yang muncul bukan semangat melayani, melainkan nafsu mengembalikan modal.

Baca Juga :  Perayaan Natal PWI Jaya: Menjadi Terang bagi Pers yang Beretika dan Berintegritas

Jabatan akhirnya diperlakukan seperti investasi bisnis. Mereka yang sudah keluar uang besar merasa wajar jika kemudian mencari cara untuk menutup kerugian—entah lewat proyek, pungutan, permainan anggaran, atau memanfaatkan kewenangan. Rakyat yang seharusnya dilayani justru berubah menjadi objek pemerasan sistemik.

Lebih parah lagi, sistem seperti ini menciptakan lingkaran setan. Orang yang jujur dan benar-benar ingin mengabdi sering tersingkir karena tidak punya uang untuk “membeli kursi”. Sementara yang berhasil masuk justru mereka yang sejak awal sudah siap bermain kotor. Akibatnya, mental pelayan publik digantikan mental pedagang jabatan.

Baca Juga :  Jakpus Perketat Pengawasan Penanganan Aduan, ASN Diminta Kerja Nyata

Ini bukan sekadar masalah moral individu, tetapi kerusakan sistemik. Selama rekrutmen ASN masih bisa disogok dan politik masih didominasi uang, jangan berharap lahir birokrasi yang bersih. Yang lahir justru pejabat yang sejak hari pertama sudah berpikir: bagaimana cara balik modal dan cari untung.

Baca Juga :  Jalan Condet Berlubang Picu Kecelakaan, Pemkot Jaktim Desak PAM Jaya Tutup Galian

Kalau kondisi ini terus dibiarkan, negara hanya akan dipenuhi orang-orang yang mengejar jabatan bukan untuk melayani rakyat, tetapi untuk memanen keuntungan dari kekuasaan. Dan pada titik itu, rakyat hanya menjadi penonton dari sebuah panggung kekuasaan yang penuh transaksi.

Berita Terkait

The Virgin Siap Guncang Panggung LokaryaFest 2026 di GBK
PWI Jaya Buka Pendaftaran Ulang Keanggotaan, Ditutup 31 Desember 2026
599 Kasus HIV Baru Gegerkan Kota Bogor, DPRD Minta Langkah Darurat Pencegahan
Tiga Warga Sipil Meninggal dalam Insiden Kekerasan di Yahukimo, Aparat Lakukan Penyelidikan
Tokoh Muda Tanah Abang Apresiasi Kinerja Arifin, Minta Kritik Disampaikan Secara Objektif
Di Balik Sukses Ekspedisi Cicatih Elpala, Tim Pendukung Jadi Penentu Keberhasilan
PWI Pusat: Kritik Boleh, Namun Martabat Wartawan Tetap Harus Dijaga
Rumah Pena Nusantara Foundation Ajak Insan Pers Bijak Bermedia Sosial di Era AI

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:49 WIB

The Virgin Siap Guncang Panggung LokaryaFest 2026 di GBK

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:03 WIB

PWI Jaya Buka Pendaftaran Ulang Keanggotaan, Ditutup 31 Desember 2026

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:40 WIB

599 Kasus HIV Baru Gegerkan Kota Bogor, DPRD Minta Langkah Darurat Pencegahan

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:06 WIB

Tiga Warga Sipil Meninggal dalam Insiden Kekerasan di Yahukimo, Aparat Lakukan Penyelidikan

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:41 WIB

Tokoh Muda Tanah Abang Apresiasi Kinerja Arifin, Minta Kritik Disampaikan Secara Objektif

Berita Terbaru

Megapolitan

The Virgin Siap Guncang Panggung LokaryaFest 2026 di GBK

Sabtu, 25 Jul 2026 - 08:49 WIB