Anda Kenal Abdul Karim Qasim?
Oleh: Ismail Amin
Banyak orang mungkin tak mengenalnya. Namanya seperti sengaja ditenggelamkan dari percakapan sejarah global. Padahal, dalam lima tahun kekuasaan, ia mengguncang fondasi politik Irak.
adalah jenderal militer yang memimpin . Ia menggulingkan monarki Hasyimiyah yang berkuasa selama 37 tahun dan mendeklarasikan Republik Irak pada 1958. Rezim yang didukung Inggris itu runtuh dalam satu pagi yang menentukan.
Qasim menjadi Perdana Menteri Irak dari 1958 hingga 1963. Waktunya singkat. Tapi kebijakannya tajam.
Ia menerbitkan Undang-Undang Reformasi Agraria. Tanah-tanah luas didistribusikan kepada petani. Skema bagi hasil diatur ulang: 70 persen untuk penggarap, 30 persen untuk pemilik lahan. Dominasi elite lama dipangkas.
Anggaran pendidikan hampir dilipatgandakan. Sekolah-sekolah tumbuh. Ia juga menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, terutama sektor minyak. Negara mengambil alih 99,5 persen keuntungan. Dana itu dipakai membangun perumahan rakyat dan menggratiskan pendidikan.
Langkah ini membuatnya tak disukai kekuatan Barat.
Di bidang sosial, kebijakannya lebih radikal lagi. Irak menjadi salah satu negara Arab pertama yang memperluas hak politik perempuan. Poligami dibatasi ketat. Pernikahan usia dini dilarang dengan penetapan batas minimum umur. Perempuan mendapat perlindungan hukum dalam perceraian dan hak waris yang lebih setara. Kebijakan ini menuai resistensi dari kalangan ulama konservatif.
Qasim mengagumi . Ia kerap menyebut nama Presiden Indonesia itu dalam pidatonya sebagai inspirasi anti-imperialisme dan kemandirian nasional.
Tahun 1960, Soekarno berkunjung ke Baghdad. Sambutannya luar biasa. Rakyat turun ke jalan. Sejarawan Irak mencatat, belum ada kepala negara asing yang disambut semeriah itu.
Soekarno membawa bibit ikan mas dari Indonesia dan menebarkannya di Sungai Tigris. Ikan itu kemudian populer dengan sebutan “Ikan Soekarno” di sejumlah restoran Baghdad. Simbol persahabatan dua bangsa.
Namun politik tak pernah sederhana.
Dari 16 menterinya, sebagian berasal dari Partai Baath. Pada 1963, elemen militer dan Baath melancarkan kudeta berdarah. Qasim ditangkap dan ditembak. Jenazahnya dikubur secara rahasia.
kerap disebut dalam berbagai analisis sebagai pihak yang mengetahui atau mendukung dinamika penggulingan tersebut, meski perdebatan sejarah terus berlangsung.
Setelah berkuasa, memori tentang Qasim makin ditekan. Loyalisnya diburu. Banyak dituduh komunis. Nama Qasim dipinggirkan dari narasi resmi negara.
Baru setelah rezim Baath runtuh pada 2003, ingatan tentangnya muncul kembali. Makamnya ditemukan pada 2005. Sebuah patung didirikan di Jalan al-Rasyid, Baghdad, mengenang Revolusi 14 Juli.
Di monumen itu terukir puisi tentang revolusi, tentang matahari yang terbit setelah gelap panjang. Simbol yang dulu juga hadir dalam bendera Irak era Qasim—matahari Mesopotamia—yang hanya berkibar selama lima tahun masa pemerintahannya.
Sejarah mencatatnya dengan perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai populis progresif. Sebagian lain menilainya naif dalam mengelola kekuatan politik.
Namun satu hal pasti: dalam waktu singkat, Abdul Karim Qasim pernah mencoba mengubah arah Irak—dengan nasionalisme, reformasi sosial, dan keberanian menantang dominasi asing.
Selebihnya, sejarah yang menilai.






