JAKARTA,PLUS62.CO — Ada yang lucu di Perempatan Pesing, Jakarta Barat. Beton pembatas jalan dibuka, pak ogah kembali muncul mengatur kendaraan. Sementara aparat yang seharusnya mengawasi justru dipertanyakan keberadaannya.
Sebelumnya, akses tersebut sempat ditutup menggunakan beton pembatas jalan karena aktivitas pak ogah dinilai berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.
Kini setelah akses kembali dibuka, aktivitas serupa terlihat lagi.
“Ini beton pembatasnya yang dibuka atau pintu masuk pak ogah yang dibuka?” ujar pemerhati transportasi dengan nada menyindir.
Menurutnya, kondisi tersebut patut menjadi perhatian aparat terkait. Sebab, jika aktivitas yang sebelumnya sudah menjadi sorotan kembali terjadi setelah akses dibuka, publik wajar mempertanyakan efektivitas pengawasan di lapangan.
“Kalau aparat sudah menertibkan, kok bisa muncul lagi? Jangan-jangan pak ogah lebih cepat dapat informasi daripada petugas,” katanya.
Ia menegaskan, pertanyaan publik bukan tanpa alasan. Jika keberadaan pak ogah memang mengganggu arus lalu lintas, seharusnya ada pengawasan dan penertiban yang konsisten.
“Jangan sampai masyarakat akhirnya bertanya-tanya: ini memang pengawasan yang lemah, atau ada yang sengaja membiarkan? Bahkan kalau perlu, publik berhak bertanya apakah ada ‘main mata’ di balik kembalinya aktivitas tersebut,” tegasnya.
Namun demikian, dugaan adanya permainan atau pembiaran tersebut perlu dibuktikan melalui pengawasan dan pemeriksaan aparat berwenang, bukan sekadar berdasarkan asumsi.
Pesing akhirnya punya teka-teki baru: beton pembatas sudah dibuka, pak ogah kembali beraksi, lalu siapa sebenarnya yang mengawasi?






