Megapolitan – Di banyak rumah, hidup dimulai dengan hitung-hitungan sederhana: cukupkah uang hari ini. Beras harus dibeli, gas menipis, listrik menunggu dibayar. Semua kebutuhan datang bersamaan, sementara penghasilan tak selalu pasti.
Tak ada lagi yang benar-benar gratis. Makan harus dibeli. Air dibayar. Internet pun wajib ada. Bagi orang tua, kuota menjadi syarat bekerja. Bagi anak-anak, ia menjadi pintu sekolah. Tanpa kuota, hidup terasa tertinggal.
Saat kebutuhan mendesak dan uang tak cukup, pinjaman online dan bank keliling hadir sebagai penolong. Proses cepat, tanpa banyak syarat. Uang cair dalam hitungan menit—cukup untuk menutup kebutuhan hari ini.
Namun pertolongan itu sering berumur pendek. Cicilan dan bunga datang belakangan, menumpuk perlahan. Utang kecil berubah menjadi jerat panjang. Yang awalnya solusi, berubah menjadi beban.
Tekanan ekonomi juga menyempitkan ruang persaudaraan. Saat semua orang sibuk bertahan, saling membantu menjadi barang langka. Hubungan sosial merenggang, rasa percaya menipis. Setiap orang dipaksa menyelamatkan diri masing-masing.
Banyak keluarga akhirnya menjual aset yang tersisa. Motor dilepas, perhiasan digadai, barang berharga satu per satu hilang. Bukan untuk memperbaiki hidup, tapi agar esok hari masih bisa dilewati.
Bagi rakyat kecil, daya tahan punya batas. Ketika batas itu terlampaui, mereka tersingkir perlahan—dari rumah yang layak, dari pendidikan, dari akses dasar. Menghilang tanpa sorotan.
Sementara itu, hanya segelintir yang tak banyak berubah. Bagi kelas atas, krisis ekonomi hadir sebagai kabar, bukan pengalaman.
Potret ini bukan keluhan. Ini kenyataan. Saat hidup makin mahal dan penghasilan tak pasti, utang menjadi penolong terakhir—dan persaudaraan perlahan menyempit.






