Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa - Plus62.co

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa

- Jurnalis

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BUDAYA – Jauh sebelum masuknya pengaruh Hinduism, Buddhism dan kemudian Islam, masyarakat Jawa diyakini telah memiliki sistem kepercayaan sendiri yang dikenal sebagai Kapitayan. Kepercayaan ini dianggap sebagai salah satu lapisan spiritual paling tua dalam budaya Jawa.

Dalam Kapitayan, masyarakat Jawa kuno mengenal konsep ketuhanan yang disebut Sang Hyang Taya atau Sang Hyang Tunggal. Tuhan dipahami sebagai kekuatan tertinggi yang tidak terlihat, tidak dapat digambarkan, dan tidak bisa diserupakan dengan apa pun. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan “tan kena kinaya ngapa”, yang berarti Tuhan tidak bisa dibayangkan atau dipersonifikasikan.

Baca Juga :  WS. Rendra, Penyair Besar dengan Karya Membumi

Konsep ini membuat sebagian peneliti budaya menilai bahwa masyarakat Jawa kuno telah memiliki gagasan ketuhanan yang bersifat abstrak, bahkan sebelum datangnya pengaruh agama-agama besar dari luar.

Jejak Kapitayan juga terlihat dalam berbagai simbol budaya. Salah satunya adalah tumpeng, nasi berbentuk kerucut yang kerap hadir dalam acara syukuran. Bentuknya melambangkan gunung, yang dalam kosmologi Jawa dipandang sebagai pusat kekuatan spiritual.

Baca Juga :  Wisanggeni, Sosok Urakan Sang Pejuang Kebenaran

Gunung-gunung besar seperti atau sejak lama dianggap memiliki nilai sakral dalam pandangan masyarakat Jawa. Gunung dipandang sebagai penghubung antara manusia dan kekuatan ilahi.

Selain itu, sebelum munculnya candi-candi megah, masyarakat Nusantara telah mengenal bangunan ritual yang disebut punden berundak. Struktur bertingkat ini diyakini menjadi cikal bakal arsitektur candi seperti dan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha.

Ketika Islam mulai menyebar di Jawa pada abad ke-15, para ulama seperti memilih pendekatan budaya. Alih-alih menghapus tradisi lama, banyak simbol dan praktik lokal yang diadaptasi menjadi media dakwah.

Baca Juga :  Aloka dan Ujian Toleransi

Karena itu, sejumlah tradisi seperti slametan, sedekah bumi, hingga ziarah makam leluhur tetap bertahan hingga kini sebagai bagian dari budaya Jawa.

Banyak pengamat budaya menyebut, tradisi Jawa sebenarnya terbentuk dari beberapa lapisan sejarah. Dimulai dari Kapitayan sebagai kepercayaan asli, kemudian dipengaruhi Hindu-Buddha, dan akhirnya berasimilasi dengan Islam.

Perpaduan inilah yang membuat budaya Jawa dikenal kaya simbol, sarat makna, dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Berita Terkait

Saat Kau Memahami yang Indah di Dunia Ini Kau Berhenti jadi Budak
Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern
Tentang Bonsai
Durmogati, Laku Plonga-Plongo
Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang
Aloka dan Ujian Toleransi
PWI Jakarta Gelar Pagelaran Budaya di Tengah Hujan Deras
Rojali–Japra Meriahkan Hari Terakhir Benda Fair 2025 Lewat Atraksi Seni Bela Diri
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:56 WIB

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa

Senin, 23 Februari 2026 - 13:07 WIB

Saat Kau Memahami yang Indah di Dunia Ini Kau Berhenti jadi Budak

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:33 WIB

Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:34 WIB

Tentang Bonsai

Senin, 26 Januari 2026 - 07:14 WIB

Durmogati, Laku Plonga-Plongo

Berita Terbaru

Seni Budaya

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa

Jumat, 6 Mar 2026 - 05:56 WIB

Daerah

Ramadan Penuh Harapan di Lapas Medan

Kamis, 5 Mar 2026 - 13:28 WIB