Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern - Plus62.co

Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yang Fana Adalah Waktu
oleh Sapardi Djoko Damono

Yang Fana Adalah Waktu oleh Sapardi Djoko Damono

BUDAYA – Puisi pernah menjadi napas peradaban. Jauh sebelum manusia mengenal kertas dan layar digital, puisi hidup dalam mantra, nyanyian, dan kisah lisan. Ia menjadi cara manusia menyimpan ingatan, menuturkan sejarah, dan memahami dunia.

Dari epos kuno seperti Gilgamesh, himne Weda di India, hingga pantun dan tembang Nusantara, puisi selalu hadir sebagai bahasa batin manusia.


Pada masa lalu, puisi bukan sekadar karya sastra. Ia adalah media pendidikan, agama, dan kebijaksanaan.

Penyair dipandang sebagai penjaga nilai dan penutur kebenaran. Di berbagai peradaban, puisi menjadi jembatan antara manusia, alam, dan keyakinan spiritual.

Baca Juga :  Zaman Edan : dalam Perspektif Serat Kalatidha Karya Ranggawarsita


Memasuki era modern, fungsi puisi berubah. Ia menjadi ekspresi individual—tentang cinta, kesepian, kemarahan, dan kritik sosial.

Di Indonesia, puisi modern tumbuh melalui Pujangga Baru dan meledak pada Angkatan ’45 lewat sosok seperti Chairil Anwar. Puisi tak lagi terikat aturan kaku. Ia menjadi suara kebebasan dan kegelisahan zaman.
Namun di tengah kehidupan modern yang serba cepat, puisi perlahan tersingkir.

Dunia hari ini bergerak dalam ritme target, angka, dan efisiensi. Manusia dibentuk untuk produktif, bukan reflektif. Kecepatan dipuja, sementara kedalaman diabaikan. Ruang untuk merenung semakin sempit.

Baca Juga :  Wisanggeni, Sosok Urakan Sang Pejuang Kebenaran


Teknologi mempercepat segalanya, tetapi juga menumpulkan rasa. Setiap hari manusia membaca ribuan kata di layar, namun sedikit yang benar-benar meresap.

Scroll menggantikan perenungan. Notifikasi menggantikan keheningan. Algoritma menentukan apa yang dilihat dan dirasakan.
Puisi tidak mati, tetapi kehilangan tempat. Ia tertimbun oleh kebisingan informasi dan budaya instan.

Padahal puisi membutuhkan jeda—sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan modern. Puisi lahir dari kesunyian, sementara manusia modern justru takut sepi.

Baca Juga :  Mudik, Sebuah Refleksi Kembali ke Asal yang Sejati


Ketika puisi hilang dari kehidupan sehari-hari, yang hilang bukan sekadar karya sastra. Yang ikut memudar adalah kepekaan.

Puisi adalah latihan menjadi manusia: merasakan tanpa kalkulasi, memahami tanpa tergesa, dan menyentuh makna di balik rutinitas.


Selama manusia masih memiliki rasa, puisi sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu ruang untuk kembali hidup—di tengah dunia yang terlalu sibuk untuk berhenti sejenak dan mendengar suara hatinya sendiri.

Berita Terkait

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa
Saat Kau Memahami yang Indah di Dunia Ini Kau Berhenti jadi Budak
Tentang Bonsai
Durmogati, Laku Plonga-Plongo
Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang
Aloka dan Ujian Toleransi
PWI Jakarta Gelar Pagelaran Budaya di Tengah Hujan Deras
Rojali–Japra Meriahkan Hari Terakhir Benda Fair 2025 Lewat Atraksi Seni Bela Diri

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:56 WIB

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa

Senin, 23 Februari 2026 - 13:07 WIB

Saat Kau Memahami yang Indah di Dunia Ini Kau Berhenti jadi Budak

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:33 WIB

Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:34 WIB

Tentang Bonsai

Senin, 26 Januari 2026 - 07:14 WIB

Durmogati, Laku Plonga-Plongo

Berita Terbaru

Megapolitan

Buka Bersama PWI Jaya, Apresiasi Kepedulian Insan Pers

Sabtu, 14 Mar 2026 - 13:45 WIB

Megapolitan

LBH Gekira Dorong Akses Bantuan Hukum bagi Masyarakat Kurang Mampu

Kamis, 12 Mar 2026 - 17:45 WIB