JAKARTA, Plus62.co – Warga Cengkareng Barat mendesak Polsek Cengkareng segera menertibkan dugaan aksi premanisme berkedok penagihan utang yang terjadi di ruang publik. Aksi tersebut dinilai meresahkan dan mencederai rasa aman masyarakat.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Utama 8, Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Senin siang (2/2/2026), saat sekelompok pria yang mengaku sebagai debt collector diduga mencoba menarik paksa sepeda motor Honda PCX milik seorang warga perempuan.
Tarik Motor di Jalan, Warga Ketakutan
Berdasarkan keterangan saksi, para pria tersebut mendatangi korban saat berhenti membeli makanan. Mereka kemudian menanyakan kepemilikan kendaraan dan melarang korban meninggalkan lokasi dengan alasan tunggakan cicilan.
Korban yang merasa terintimidasi langsung menghubungi keluarganya. Ketegangan meningkat ketika para pria tersebut memegang kendaraan dan tetap memaksa meski diminta menunjukkan legalitas penarikan.
“Kami mempertanyakan kewenangan mereka. Tidak ada surat, tidak ada polisi, tapi berani tarik motor di jalan,” ujar Suroto, ayah korban.
Situasi Memanas, Warga Turun Tangan
Situasi sempat memanas ketika korban merekam kejadian. Ponsel korban dilaporkan hampir direbut dan terjadi aksi dorong-dorongan. Keributan tersebut mengundang perhatian warga sekitar yang kemudian berdatangan dan menolak aksi penarikan paksa.
Warga menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi yang menyerupai praktik premanisme di ruang publik.
Polisi Diminta Tertibkan Premanisme Jalanan
Warga secara tegas meminta Polsek Cengkareng tidak tinggal diam dan segera menertibkan praktik penagihan utang yang dilakukan secara paksa di jalan.
“Ini bukan soal cicilan saja, tapi soal rasa aman. Kalau begini terus, warga bisa jadi korban berikutnya. Polisi harus turun,” kata salah satu warga.
Masyarakat juga mendesak kepolisian mengusut identitas para pria yang mengaku sebagai debt collector serta menindak tegas jika ditemukan pelanggaran hukum.
Penarikan Akhirnya Gagal
Aksi penarikan kendaraan akhirnya batal setelah warga berkumpul dan menekan para pria tersebut untuk meninggalkan lokasi. Tidak ada korban luka, namun kejadian ini menyisakan trauma dan kekhawatiran warga.
Warga berharap aparat kepolisian meningkatkan patroli dan pengawasan agar praktik serupa tidak kembali terjadi di wilayah Cengkareng.






