Wartawan di Era Perang Opini: Pilar Demokrasi yang Tak Boleh Runtuh - Plus62.co

Wartawan di Era Perang Opini: Pilar Demokrasi yang Tak Boleh Runtuh

- Jurnalis

Senin, 2 Februari 2026 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber pribadi ; poto diambil saat kegiatan retreat pwi bela negara di Balai latihan bela negara

Sumber pribadi ; poto diambil saat kegiatan retreat pwi bela negara di Balai latihan bela negara

Oleh: Rinto Hartoyo Agus, SH, CTA
Wartawan itu seharusnya jadi pilar ke-4 demokrasi—pengawas kekuasaan dan kontrol sosial yang bikin negara tetap sehat. Tapi sekarang kondisinya berat. Banyak media gulung tikar, gaji kecil, dan tekanan politik tinggi. Akibatnya, sebagian wartawan memilih “menjilat” demi bertahan hidup. Padahal, setiap kompromi yang mengorbankan integritas adalah pengkhianatan profesi.


Saat Retreat Wartawan PWI 2026 di Balai Latihan Bela Negara, Rumpin, Menteri Pertahanan Syafrie Sjamsoeddin bilang, wartawan sekarang adalah “penjuru perang opini”. Artinya, wartawan bukan sekadar menyampaikan berita, tapi menjaga kebenaran informasi dan opini publik. Kalau integritas wartawan hilang, berita bisa disalahgunakan: hoaks, propaganda, atau memecah belah masyarakat—bahaya buat negara di masa depan.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Bekasi dan Purwakarta, Getaran Terasa hingga Jakarta


Meski ekonomi dan tekanan politik berat, wartawan yang tetap jaga integritas itu seperti benteng terakhir demokrasi. Mereka yang menyerah pada kepentingan tertentu sama saja mengkhianati profesi dan melemahkan kontrol sosial.

Baca Juga :  Dalam Rangka Evaluasi KLA, Wali Kota Jakarta Pusat Optimistis Naik Predikat Utama


Tapi ada harapan. Banyak wartawan masih berinovasi: memanfaatkan media digital, kerja sama lintas platform, dan jurnalisme investigasi. Ini bukti pilar ke-4 demokrasi masih bisa bertahan, asal ada dukungan nyata: model bisnis media yang sehat, perlindungan hukum, dan penghargaan bagi profesionalisme.

Baca Juga :  Perubahan Tilang STNK Mati Dua Tahun Kendaraan di Sita,Hoaks


Di era perang opini ini, wartawan adalah garda terakhir kebenaran. Integritas mereka bukan sekadar soal profesi, tapi soal menjaga opini publik, kohesi sosial, dan ketahanan negara. Tanpa mereka, demokrasi bisa rapuh, opini publik mudah dimanipulasi, dan negara terancam oleh gelombang informasi yang salah arah.


Rinto Hartoyo Agus, SH, CTA

Berita Terkait

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi
Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah
Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers
Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga
Wartawan: Ketika Idealisme Tunduk pada Kebutuhan
‎Ahmad Alfan Sah Jadi Ketua Pk Kecamatan Sindang Jaya Partai Golongan Karya Kabupaten Tangerang
Wakil Wali Kota Jakpus Pimpin Penertiban Rumah Dinas PAM Jaya

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 23:13 WIB

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data

Senin, 20 Juli 2026 - 13:16 WIB

Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:53 WIB

Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga

Berita Terbaru

TNI & Polri

Menembus Gambut, Tim Mabes TNI Padamkan Sisa Api Karhutla

Minggu, 30 Agu 2026 - 12:06 WIB