OPINI — Pergantian figur profesional dari jabatan strategis kembali memunculkan pertanyaan lama: mengapa orang kompeten kerap tidak bertahan lama di lingkar kekuasaan. Fenomena ini terlihat jelas di , salah satunya melalui kasus Ignasius Jonan yang berhasil merepormasi perkeretaapian di indonesia (KAI).
Jonan dikenal luas sebagai sosok yang berhasil mereformasi dari perusahaan transportasi kumuh dan merugi menjadi modern, disiplin, serta menguntungkan. Ketika dipercaya memimpin Kementerian Perhubungan, ia membawa pola reformasi yang sama: penertiban sektor transportasi, penegakan keselamatan, serta pembenahan sistem perizinan.
Namun gaya kepemimpinan yang tegas dan independen justru menimbulkan resistensi. Penertiban yang dilakukan menyentuh banyak kepentingan bisnis dan jaringan lama yang selama bertahun-tahun menikmati kelonggaran sistem. Dalam situasi politik yang sarat kompromi, langkah keras sering kali dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan.
Pada reshuffle 2016, Presiden mengganti Jonan dari kursi Menteri Perhubungan. Secara resmi pemerintah menyebut kebutuhan percepatan infrastruktur dan koordinasi kabinet. Namun banyak pengamat melihat pergantian itu sebagai bagian dari penyesuaian politik dan keseimbangan kepentingan.
Kasus Jonan mencerminkan pola yang lebih luas. Di banyak institusi, kompetensi dan integritas belum tentu menjadi faktor utama dalam mempertahankan jabatan. Sistem yang masih dipengaruhi patronase, balas jasa politik, dan kepentingan ekonomi membuat figur yang terlalu tegas sering dianggap tidak fleksibel.
Reformasi yang menyasar kebocoran anggaran, praktik rente, dan monopoli ekonomi hampir selalu menciptakan perlawanan. Semakin besar perubahan yang dilakukan, semakin besar pula tekanan yang muncul. Tanpa perlindungan sistem meritokrasi yang kuat, profesional bersih sering berdiri sendirian.
Ironisnya, publik kerap baru merasakan dampak kehilangan setelah figur kompeten tidak lagi berada di posisi strategis. Ketika masih menjabat, ketegasan dianggap keras. Setelah diganti, standar kerja dan disiplin perlahan menurun.
Fenomena ini menegaskan bahwa tantangan terbesar pembangunan bukan sekadar menghadirkan orang hebat, melainkan membangun sistem yang mampu mempertahankan mereka. Selama jabatan masih dipengaruhi kompromi kekuasaan dan kepentingan ekonomi, siklus muncul dan tersingkirnya figur kompeten akan terus berulang di republik ini.






