Kasus Ignasius Jonan dan Fenomena Tersingkirnya Orang Kompeten di Republik Ini - Plus62.co

Kasus Ignasius Jonan dan Fenomena Tersingkirnya Orang Kompeten di Republik Ini

- Jurnalis

Jumat, 13 Februari 2026 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber poto: Instagram @actconsulting

Sumber poto: Instagram @actconsulting

OPINI — Pergantian figur profesional dari jabatan strategis kembali memunculkan pertanyaan lama: mengapa orang kompeten kerap tidak bertahan lama di lingkar kekuasaan. Fenomena ini terlihat jelas di , salah satunya melalui kasus Ignasius Jonan yang berhasil merepormasi perkeretaapian di indonesia (KAI).

Jonan dikenal luas sebagai sosok yang berhasil mereformasi dari perusahaan transportasi kumuh dan merugi menjadi modern, disiplin, serta menguntungkan. Ketika dipercaya memimpin Kementerian Perhubungan, ia membawa pola reformasi yang sama: penertiban sektor transportasi, penegakan keselamatan, serta pembenahan sistem perizinan.

Baca Juga :  Haji Sarmilih Ucapkan Selamat kepada AKBP Reza Ma'rufi, Optimistis Polres Sumedang Semakin Presisi dan Humanis

Namun gaya kepemimpinan yang tegas dan independen justru menimbulkan resistensi. Penertiban yang dilakukan menyentuh banyak kepentingan bisnis dan jaringan lama yang selama bertahun-tahun menikmati kelonggaran sistem. Dalam situasi politik yang sarat kompromi, langkah keras sering kali dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan.

Pada reshuffle 2016, Presiden mengganti Jonan dari kursi Menteri Perhubungan. Secara resmi pemerintah menyebut kebutuhan percepatan infrastruktur dan koordinasi kabinet. Namun banyak pengamat melihat pergantian itu sebagai bagian dari penyesuaian politik dan keseimbangan kepentingan.

Baca Juga :  Adnan Buyung Didorong Jadi Pahlawan Nasional, KAI: Sudah Saatnya!

Kasus Jonan mencerminkan pola yang lebih luas. Di banyak institusi, kompetensi dan integritas belum tentu menjadi faktor utama dalam mempertahankan jabatan. Sistem yang masih dipengaruhi patronase, balas jasa politik, dan kepentingan ekonomi membuat figur yang terlalu tegas sering dianggap tidak fleksibel.

Reformasi yang menyasar kebocoran anggaran, praktik rente, dan monopoli ekonomi hampir selalu menciptakan perlawanan. Semakin besar perubahan yang dilakukan, semakin besar pula tekanan yang muncul. Tanpa perlindungan sistem meritokrasi yang kuat, profesional bersih sering berdiri sendirian.

Baca Juga :  Pengurus KAI Ziarah ke Makam Ramdlon Naning di Yogyakarta

Ironisnya, publik kerap baru merasakan dampak kehilangan setelah figur kompeten tidak lagi berada di posisi strategis. Ketika masih menjabat, ketegasan dianggap keras. Setelah diganti, standar kerja dan disiplin perlahan menurun.

Fenomena ini menegaskan bahwa tantangan terbesar pembangunan bukan sekadar menghadirkan orang hebat, melainkan membangun sistem yang mampu mempertahankan mereka. Selama jabatan masih dipengaruhi kompromi kekuasaan dan kepentingan ekonomi, siklus muncul dan tersingkirnya figur kompeten akan terus berulang di republik ini.

Berita Terkait

Rudi Bratanusa Eka Terpilih Pimpin IMI DKI Jakarta Periode 2026–2030
Apresiasi Ekosistem Perumahan dengan 60 Umrah, Maruarar Sirait Siapkan 8 Rumah Subsidi pada IPBA XXI 2027
Tim Layar Kodaeral IV Raih Lima Medali di Kejurnas Series II Jakarta
BCW Kritik Rencana Layer Baru Cukai Rokok: Jangan Jadikan Kebijakan Fiskal sebagai Eksperimen
PWI Jaya Bersiap Gelar UKW Angkatan ke-66 pada Oktober
BCW Soroti Transparansi Cukai Rokok, Akan Uji Data Produksi hingga Penerimaan
BCW Apresiasi KPK Tahan Pejabat Bea Cukai, Dorong Usut Tuntas Suap Impor
Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:46 WIB

Rudi Bratanusa Eka Terpilih Pimpin IMI DKI Jakarta Periode 2026–2030

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:25 WIB

Apresiasi Ekosistem Perumahan dengan 60 Umrah, Maruarar Sirait Siapkan 8 Rumah Subsidi pada IPBA XXI 2027

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 05:16 WIB

Tim Layar Kodaeral IV Raih Lima Medali di Kejurnas Series II Jakarta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:20 WIB

BCW Kritik Rencana Layer Baru Cukai Rokok: Jangan Jadikan Kebijakan Fiskal sebagai Eksperimen

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:15 WIB

BCW Soroti Transparansi Cukai Rokok, Akan Uji Data Produksi hingga Penerimaan

Berita Terbaru

TNI & Polri

Menembus Gambut, Tim Mabes TNI Padamkan Sisa Api Karhutla

Minggu, 30 Agu 2026 - 12:06 WIB