Tentang Bonsai - Plus62.co

Tentang Bonsai

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jaya Suprana
JAKARTA — Dalam politik, pengerdilan kerap digunakan untuk melemahkan lawan dengan merusak karakter agar dianggap tak layak tampil di panggung publik. Namun pengerdilan tidak selalu bermakna negatif. Dalam seni bonsai, pengerdilan justru melahirkan keindahan.


Bonsai merupakan seni mengerdilkan pohon dalam pot yang berasal dari Tiongkok lebih dari 2.000 tahun lalu dengan sebutan pen jing, lalu berkembang di Jepang sejak abad ke-14 dengan nama bonsai.

Baca Juga :  Zaman Edan : dalam Perspektif Serat Kalatidha Karya Ranggawarsita

Tujuannya menciptakan miniatur alam yang sarat filosofi Zen: keseimbangan, harmoni, dan keindahan dalam skala kecil.

Tekniknya meliputi pemangkasan, pengikatan, serta perawatan khusus untuk mengendalikan pertumbuhan pohon.


Tidak semua pohon mudah dibonsai. Pohon ideal memiliki akar kuat, batang fleksibel, daun kecil, serta pertumbuhan yang dapat dikendalikan.

Baca Juga :  Wisanggeni, Sosok Urakan Sang Pejuang Kebenaran

Sebaliknya, pohon berakar dalam seperti kelapa, berbatang keras seperti jati tua, atau berdaun besar seperti pisang, relatif sulit dibentuk. Meski begitu, dengan pengetahuan dan ketelatenan, hampir semua pohon tetap bisa diupayakan.


Bambu menjadi salah satu favorit dalam seni bonsai. Pertumbuhannya cepat, batangnya lentur dan kuat, serta daunnya kecil dan rimbun. Selain indah, bambu juga menyimpan makna filosofis: kekuatan, adaptasi, dan kesederhanaan.

Baca Juga :  Kaya Raya, Lalu Menjadi Manusia


Dalam tradisi Zen, bonsai bukan sekadar seni merawat pohon, melainkan jalan kontemplasi. Ia menjadi media meditasi untuk melatih kesabaran, ketelitian, serta menemukan keseimbangan batin.

Bonsai adalah pengingat bahwa keindahan dan harmoni kerap lahir dari kemampuan mengendalikan pertumbuhan—bukan sekadar membesarkan, melainkan menata dengan bijak.

Berita Terkait

Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern
Durmogati, Laku Plonga-Plongo
Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang
Aloka dan Ujian Toleransi
PWI Jakarta Gelar Pagelaran Budaya di Tengah Hujan Deras
Rojali–Japra Meriahkan Hari Terakhir Benda Fair 2025 Lewat Atraksi Seni Bela Diri
Mudik, Sebuah Refleksi Kembali ke Asal yang Sejati
Festival Beduk Jakarta Pusat 2025: Lestarikan Budaya dan Kompetisi

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:33 WIB

Puisi yang Hilang di Kehidupan Modern

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:34 WIB

Tentang Bonsai

Senin, 26 Januari 2026 - 07:14 WIB

Durmogati, Laku Plonga-Plongo

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:14 WIB

Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:53 WIB

Aloka dan Ujian Toleransi

Berita Terbaru

Nasional

Siklon Tropis dan Pemanasan Global Perparah Bencana Sumatra

Selasa, 10 Feb 2026 - 13:23 WIB

Kolom

HPN: Lebarannya Wartawan, Pesta Besar Insan Pers

Senin, 9 Feb 2026 - 08:36 WIB

Sumber Instagram @kesultananbanjar_official

Sejarah & Arkeologi

Pahlawan Banjar, Panglima Wangkang: Darah Bakumpai yang Menolak Tunduk

Minggu, 8 Feb 2026 - 20:34 WIB