Opini : Merajut Kembali Hubungan Dosen dan Mahasiswa Melalui Dialog yang Setara - Plus62.co

Opini : Merajut Kembali Hubungan Dosen dan Mahasiswa Melalui Dialog yang Setara

- Jurnalis

Jumat, 30 Mei 2025 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Konflik antara dosen dan mahasiswa adalah hal yang lumrah terjadi dalam dinamika kehidupan kampus. Perbedaan sudut pandang, ketidaksepahaman dalam komunikasi, atau ekspektasi yang tidak sejalan sering kali menjadi pemicu gesekan. Namun demikian, konflik tidak selalu bersifat negatif. Justru dalam konflik terkandung potensi pembelajaran, asalkan dikelola dengan bijak.


Salah satu bentuk konflik yang umum terjadi adalah ketidaksepahaman dalam proses penilaian atau pemberian tugas. Mahasiswa merasa tidak mendapat kejelasan atau keadilan, sementara dosen merasa kewenangannya sebagai pengampu mata kuliah dipertanyakan. Masalah seperti ini seringkali diperburuk oleh kurangnya ruang dialog yang sehat dan terbuka.

Baca Juga :  Pelajaran dari Kasus Epstein: Kekuasaan, Uang, dan Kerapuhan Sistem


Untuk menciptakan solusi yang konstruktif, diperlukan perubahan pola komunikasi di antara keduanya. Dosen perlu membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dan keluhan tanpa rasa takut. Sebaliknya, mahasiswa pun perlu belajar menyampaikan aspirasi dengan sopan dan menghargai otoritas akademik dosen.

Baca Juga :  HPN: Lebarannya Wartawan, Pesta Besar Insan Pers

Komunikasi dua arah yang dilandasi saling percaya akan memperkuat relasi dan mencegah konflik berkembang menjadi lebih besar.


Selain itu, kampus sebagai lembaga juga harus berperan aktif menyediakan sarana penyelesaian konflik, seperti ruang mediasi akademik atau forum diskusi reguler antara dosen dan mahasiswa. Upaya ini tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan yang ada, tetapi juga membangun budaya akademik yang lebih dewasa dan inklusif.


Penting disadari bahwa baik dosen maupun mahasiswa memiliki tujuan yang sama: keberhasilan dalam proses pendidikan. Ketika keduanya mampu saling memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, maka konflik dapat diselesaikan bukan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan semangat memperbaiki.

Baca Juga :  Ladusing itu kaya, Sangat kaya


Dengan membangun budaya dialog, empati, dan keterbukaan, kampus bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat bertumbuh sebagai manusia yang utuh. (*)

Oleh : Fitri Adriani Mahasiswa S3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin sekaligus Dosen Universitas Almarisah Madani

Berita Terkait

Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris
Antara Obor dan Pembawa: Membunuh Orangnya, Gagal Mematikan Otoritas
Piramida Kapitalisme
Mengapa Kita Perlu Mengingat Kembali Kho Ping Hoo
Genovese: Mafia Paling Senyap yang Bertahan Lama di New York
Ladusing itu kaya, Sangat kaya
HPN: Lebarannya Wartawan, Pesta Besar Insan Pers
Pelajaran dari Kasus Epstein: Kekuasaan, Uang, dan Kerapuhan Sistem

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 16:09 WIB

Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris

Selasa, 3 Maret 2026 - 14:55 WIB

Antara Obor dan Pembawa: Membunuh Orangnya, Gagal Mematikan Otoritas

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:51 WIB

Piramida Kapitalisme

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:05 WIB

Mengapa Kita Perlu Mengingat Kembali Kho Ping Hoo

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:18 WIB

Genovese: Mafia Paling Senyap yang Bertahan Lama di New York

Berita Terbaru

Megapolitan

Pemkot Jaktim Wajibkan ASN Pilah Sampah dari Kantor

Selasa, 14 Apr 2026 - 21:07 WIB

Megapolitan

Doa untuk Glen Mengiringi Haru Reuni Dupati 1979

Selasa, 14 Apr 2026 - 15:55 WIB