Durmogati, Laku Plonga-Plongo - Plus62.co

Durmogati, Laku Plonga-Plongo

- Jurnalis

Senin, 26 Januari 2026 - 07:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Jaya Suprana

Dalam jagad pedalangan, ada tokoh yang tidak pernah benar-benar berdiri di tengah panggung, namun selalu hadir di tepi peristiwa. Ia tidak gagah seperti Bima, tidak licin seperti Sengkuni, juga tidak sepenuhnya bebal seperti Duryodana. Namanya Durmogati.

Budayawan yang juga Presiden Lima Gunung dan Raja Kerajaan Mendut, Sutanto, suatu ketika mengingatkan saya bahwa laku plonga-plongo lebih menemukan raga dan rohnya pada sosok Durmogati ketimbang sekadar watak tanpa wajah. Durmogati adalah tokoh Kurawa, tetapi Kurawa yang ora waton ala-ala. Wajahnya lucu tanpa niat melucu. Mulutnya teriak mengajak maju, kakinya malah melangkah pulang. Tatapannya lurus ke depan, tetapi batinnya sering tertidur.

Baca Juga :  Simón Bolívar, El Libertador

Ia bukan tokoh jahat dalam pengertian hitam-putih. Ia bersih bisa, kotor pun iya. Ia mudah ditunggangi, gampang dibisiki. Lingkungan menentukan arah lakunya: oleh kebodohan yang lugu maupun kecerdasan yang culas. Dalam bahasa zaman kini, Durmogati itu ambigu, liminal—ana, nanging kaya ora ana. Ia ahistoris, seolah hadir untuk menyeimbangkan dunia yang terlalu gemar mengeras oleh dogma sejarah.

Durmogati mirip Salya: ksatria yang rasa keadilannya condong ke Pandawa, tetapi nasib dan penghidupannya mengikatkan diri pada Astina. Ia bukan pengkhianat, bukan pula oportunis. Ia hanya manut pada garis yang digariskan semesta. Plonga-plongo bukan semata kebodohan, melainkan ruang abu-abu yang dibiarkan dewa agar dunia tidak pecah oleh polarisasi.

Baca Juga :  Tentang Bonsai

Durmogati bisa tersenyum tanpa simbol. Ia tidak bersorak saat yang congkak tumbang, dan tidak pula meratap saat yang dekat binasa. Dalam kisah Mahabharata, ketika kembaran saling menumbangkan kembaran, ia menerimanya sebagai lakon: ngene iki yo urip. Dunia memang sering ditulis seperti buaya di piring—dianggap besar, padahal ukurannya sekadar lele dumbo.
Atas pengingat Mas Tanto tersebut, saya mengucapkan terima kasih. Sebagian catatannya terpaksa saya pendam, sebab menyebut nama yang di zaman ini lebih aman disimpan dalam batin ketimbang dituliskan di kertas.

Baca Juga :  Perkampungan Kapuk Terendam Banjir Usai Hujan Deras Mengguyur Jakarta

Dan sebagaimana dunia wayang gemar pada kembar—Nakula dan Sadewa, Citraksa dan Citraksi—Durmogati pun sejatinya memiliki kembaran bernama Durmogempa. Ia jarang disebut, tetapi hampir selalu hadir, setia mendampingi. Soal nasibnya di Bharatayuddha, saya tidak tahu. Mungkin ikut pralaya. Mungkin pula selamat dan menepi, seperti banyak laku plonga-plongo lain dalam hidup kita: tidak tercatat, tetapi nyata.

Berita Terkait

Viral! Diduga Petugas SDA Santai saat Jam Kerja di Jakpus, Netizen Geram
Gunungan Sampah Longsor di Bantargebang, 3 Korban Jiwa
Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa
Rokok Ilegal Dijual Terang-terangan, Publik Pertanyakan Ketegasan Aparat
Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris
Pasal 33 yang Terlupakan dan Masa Depan Indonesia
Ramadhan Ceria Penuh Berkah, Pemkot Jakpus Bangun Karakter Generasi Muda
Duka atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei Sang Pemimpin Revolusi

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:50 WIB

Viral! Diduga Petugas SDA Santai saat Jam Kerja di Jakpus, Netizen Geram

Senin, 9 Maret 2026 - 04:14 WIB

Gunungan Sampah Longsor di Bantargebang, 3 Korban Jiwa

Jumat, 6 Maret 2026 - 05:56 WIB

Jejak Kapitayan, Kepercayaan Tua yang Membentuk Budaya Jawa

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:21 WIB

Rokok Ilegal Dijual Terang-terangan, Publik Pertanyakan Ketegasan Aparat

Rabu, 4 Maret 2026 - 16:09 WIB

Abdul Karim Qasim, Jenderal yang Mengguncang Monarki Irak dan Jejak Soekarno di Sungai Tigris

Berita Terbaru

Caption:
Menteri HAM , Wakil Menteri Komunikasi dan Digital , dan Ketua Komisi XIII DPR RI saat Kick Off dan Launching Program Media Pers dan Pembangunan HAM di Indonesia di Hotel Sahid Jaya, Rabu (11/3/2026). Istimewa.

Megapolitan

Pigai: Pers Pilar Penting Pembangunan HAM di Indonesia

Kamis, 12 Mar 2026 - 10:03 WIB

Olahraga

PWI Malut Kecam Pencabutan Laporan terhadap Bos Malut United

Selasa, 10 Mar 2026 - 16:07 WIB