Nagasaki, Oktober 1945. Kota itu masih hangus dan sunyi, beberapa bulan setelah bom atom menghancurkan segalanya pada 9 Agustus. Di antara reruntuhan dan abu, seorang anak laki-laki berdiri mematung, menggendong tubuh adiknya yang sudah meninggal di punggungnya, menunggu giliran kremasi.
Matanya kosong, tapi langkahnya masih berusaha tegak di atas puing-puing yang panas dan retak.
Seorang petugas kremasi menatapnya, suara seraknya pecah di udara dingin
“Sudah tinggalkan saja… ia memberatkan langkahmu.”
Anak itu menunduk, menatap adiknya sekali terakhir. Tubuh kecil itu terasa berat, tapi lebih berat lagi adalah dunia yang runtuh di sekelilingnya, dengan lantang ia berkata
“Dia adikku. Aku tak akan meninggalkannya, meski dunia memaksaku melepaskan.” ucapnya
Saat waktunya telah tiba dengan tangan gemetar, ia meletakkan adiknya, dan langkahnya perlahan maju di antara abu dan kehancuran. Kesedihan itu tajam, menusuk hingga ke hati, tapi ada sesuatu yang lebih kuat: cinta dan tanggung jawab seorang kakak yang tak bisa dihapus.
“DIA ADIKKU“
Ia berjalan di antara reruntuhan, mata menatap lurus ke depan, dan dalam diam berbisik:
“takan pernah aku tinggalkan adikku”.






