Mitos Wong Kalang Berekor: Jejak Stigma dari Zaman ke Zaman - plus62news

Mitos Wong Kalang Berekor: Jejak Stigma dari Zaman ke Zaman

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber https://nationalgeographic.grid.id/read/133202464/wong-kalang-sebagai-manusia-berbuntut-dalam-cerita-rakyat-di-jawa?page=all

Sumber https://nationalgeographic.grid.id/read/133202464/wong-kalang-sebagai-manusia-berbuntut-dalam-cerita-rakyat-di-jawa?page=all

MITOS – Jawa tak hanya menyimpan candi dan prasasti. Di baliknya, hidup mitos-mitos tua yang diwariskan dari mulut ke mulut. Salah satunya adalah kisah Wong Kalang berekor, cerita yang bertahan ratusan tahun dan tak pernah benar-benar padam.


Mitos ini beredar luas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur—dari Nganjuk, Blora, Bojonegoro, hingga Banyumas. Dalam cerita rakyat, Wong Kalang disebut memiliki ekor kecil di tulang ekor, yang selalu disembunyikan rapat-rapat.


Istilah yang kerap muncul adalah “bocor buntut.”


Cerita ini bukan sekadar dongeng. Ia tumbuh bersama sejarah sosial Jawa.


Penjaga Alas yang Berbeda


Dalam catatan sejarah dan tradisi lisan, Wong Kalang dikenal sebagai kelompok ahli kayu, pembuka hutan, dan pengelola alas. Pada masa kerajaan—terutama era Majapahit—mereka memegang peran penting, namun berada di luar struktur desa biasa.
Dibutuhkan, tapi dijaga jaraknya.
Kondisi inilah yang melahirkan bayangan bahwa Kalang bukan manusia “sepenuhnya.”

Baca Juga :  Meningkatnya Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Tanjung Priok Berdampak Pengiriman Barang Terganggu

Hidup dekat hutan, bekerja di wilayah sunyi, dan jarang berbaur membuat mereka ditempatkan di wilayah antara: manusia dan alam liar.


Di titik inilah mitos mulai bekerja.


Ekor sebagai Simbol


Dalam kosmologi Jawa kuna, ekor bukan sekadar bagian tubuh. Ia adalah simbol keterikatan dengan alam, naluri purba, sekaligus kesaktian. Maka cerita berekor tidak selalu bermakna hina. Pada fase awal, ia justru mengandung aura magis.


Namun makna itu berubah seiring waktu.
Saat Islamisasi Jawa menguat, mitos lama dibungkus tafsir baru. Ekor ditafsirkan sebagai tanda kutukan, akibat pelanggaran pamali atau dosa leluhur. Cerita kawin dengan makhluk halus pun menguat.

Baca Juga :  Jelang Akhir Tahun, Banjir Bandang Terjang Kalimantan Selatan


Mitos pun bergeser: dari simbol kesaktian menjadi cap aib.


Kolonialisme dan Stigma


Pada masa kolonial Belanda, Wong Kalang dicatat sebagai komunitas tertutup, endogami, dan relatif mapan secara ekonomi. Fakta ini memicu kecemburuan sosial di tingkat lokal.


Cerita berekor lalu berfungsi sebagai stigma sosial.


Ia menjadi alat pembeda. Penanda bahwa Kalang “bukan kami.” Cara halus untuk menjaga jarak kelas dan garis keturunan tanpa perlu hukum tertulis.


Antara Fakta dan Ingatan


Secara antropologis, tak pernah ditemukan bukti bahwa Wong Kalang memiliki ekor. Dugaan medis paling rasional hanyalah kelainan langka pada tulang ekor yang dibesar-besarkan menjadi mitos kolektif.
Namun mitos ini bertahan bukan karena bukti, melainkan karena ingatan sosial.

Baca Juga :  Truk Boks Terguling di Flyover Rawa Buaya, Sempat Picu Kemacetan


Ia hidup dalam bisik-bisik, larangan menikah, dan cerita yang diceritakan setengah berbisik di malam hari.


Mitos yang Tak Pernah Mati


Kini, keturunan Kalang tersebar di kota-kota besar. Banyak yang tak lagi mengenali label itu. Namun di desa-desa lama, cerita berekor tetap hidup—bukan sebagai keyakinan mutlak, melainkan warisan stigma yang belum sepenuhnya disembuhkan.


Mitos Wong Kalang berekor adalah cermin
tentang ketakutan pada yang berbeda,
tentang kekuasaan dan jarak sosial,
dan tentang cerita yang diwariskan lebih kuat daripada fakta.

Berita Terkait

Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa
Perluas Layanan Hukum bagi Masyarakat, Dennis Wibowo & Partners Buka Kantor Hukum Ketiga di Semarang
Durmogati, Laku Plonga-Plongo
Heboh Es Kue Jadul Diduga Berbahan Spons di Kemayoran
Heboh Sirine Pintu Air 10 Tangerang Terdengar Keras, BPBD: Sesuai SOP
Diguyur Hujan Sejak Pagi, Jalan Daan Mogot Tergenang hingga 15 Cm, Lalu Lintas Padat
Viral Pak Ogah Kuasai Rekayasa Lalu Lintas di Simpang Pesing Jakbar, Barrier Dishub Dibuka Paksa
Perluas Jaringan, Redaksi Lensapolri Resmi Angkat Derry Sebagai Kaperwil Banten
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:26 WIB

Mitos Wong Kalang Berekor: Jejak Stigma dari Zaman ke Zaman

Selasa, 27 Januari 2026 - 11:19 WIB

Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa

Senin, 26 Januari 2026 - 19:39 WIB

Perluas Layanan Hukum bagi Masyarakat, Dennis Wibowo & Partners Buka Kantor Hukum Ketiga di Semarang

Senin, 26 Januari 2026 - 07:14 WIB

Durmogati, Laku Plonga-Plongo

Minggu, 25 Januari 2026 - 10:43 WIB

Heboh Es Kue Jadul Diduga Berbahan Spons di Kemayoran

Berita Terbaru

Megapolitan

Koperasi Kelurahan Merah Putih Cempaka Baru Resmi Diluncurkan

Selasa, 27 Jan 2026 - 14:36 WIB

Megapolitan

Kenaikan UMR Bukan Menambah Kemakmuran, Justru Menyusahkan

Selasa, 27 Jan 2026 - 14:21 WIB

News

Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa

Selasa, 27 Jan 2026 - 11:19 WIB

Sejarah & Arkeologi

Gunung Tidar dan Sunyi yang Menjaga Jawa

Selasa, 27 Jan 2026 - 10:51 WIB