MINAHASA,PLUS62.CO — Ironi peringatan kemerdekaan kembali mencuat dari Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Di tanah kelahiran fotografer legendaris Indonesia, Alex dan Frans Mendur, berdiri Tugu Pers Mendur yang kini membutuhkan perhatian serius.
Rumah panggung yang menjadi bagian dari kawasan Tugu Pers Mendur mulai dimakan rayap. Dinding bangunan tampak kusam. Di sisi lain, koleksi foto karya Mendur bersaudara yang dahulu menjadi kekuatan utama tempat tersebut disebut kini hanya tersisa sebagian.
Pengelola Tugu Pers Mendur, Pierre Mendur, menilai kondisi tersebut merupakan ironi di tengah momentum peringatan kemerdekaan Indonesia.
Menurut dia, bangsa Indonesia tidak cukup hanya mengenang perjuangan Alex dan Frans Mendur melalui seremoni setiap Agustus. Peninggalan sejarah yang mereka tinggalkan juga harus dirawat agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang.
“Ada sesuatu yang sangat lucu sekaligus menyedihkan dari cara bangsa ini menghormati sejarah. Setiap Agustus kita sibuk bicara tentang pahlawan, memasang bendera dan menggelar upacara. Tetapi di Talikuran, sejarah justru sedang dimakan rayap,” ujar Pierre, Jumat (14/8/2026).
Bagi Pierre, persoalan Tugu Pers Mendur bukan sekadar soal kerusakan bangunan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah berkurangnya koleksi foto karya Mendur bersaudara.
Ia menyebut, dahulu terdapat sekitar 113 foto karya Alex dan Frans Mendur. Kini hanya sebagian yang masih tersisa.
“Dulu ada sekitar 113 foto karya Mendur bersaudara. Sekarang hanya beberapa yang tersisa. Selebihnya entah ke mana. Yang hilang bukan sekadar lembaran foto, tetapi bagian dari ingatan Indonesia,” katanya.
Alex dan Frans Mendur dikenal sebagai fotografer yang merekam berbagai momentum penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Kamera keduanya mengabadikan suasana awal kemerdekaan, perjuangan rakyat, perundingan Indonesia-Belanda hingga berbagai peristiwa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bagi Pierre, karya Mendur bersaudara bukan sekadar dokumentasi jurnalistik.
Foto-foto tersebut merupakan bukti visual yang membantu generasi sekarang memahami bagaimana Republik Indonesia melewati masa awal kemerdekaan yang penuh ketidakpastian.
“Ketika sejarah Indonesia membutuhkan saksi, mereka hadir dengan kamera. Ketika republik masih rapuh dan masa depan belum jelas, mereka merekamnya. Ketika banyak orang hanya bisa bercerita tentang perjuangan, Mendur bersaudara meninggalkan bukti visual,” ujarnya.
Tugu Pers Mendur diharapkan menjadi salah satu ruang untuk menjaga ingatan tersebut. Monumen itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013.
Namun, kondisi kawasan tersebut saat ini dinilai membutuhkan perhatian serius pemerintah dan seluruh pihak terkait.
Pierre mempertanyakan bagaimana mungkin bangsa yang terus menyerukan pentingnya menjaga sejarah justru membiarkan tempat yang berkaitan langsung dengan sejarah pers dan perjuangan kemerdekaan mengalami kerusakan.
“Jangan sampai negara terlihat sangat cepat memberikan penghargaan kepada mereka yang masih punya panggung, tetapi begitu lambat menghormati mereka yang sudah memberikan karya untuk generasi yang bahkan belum lahir ketika karya itu dibuat,” tegasnya.
Dorong Alex dan Frans Mendur Jadi Pahlawan Nasional
Selain meminta penyelamatan Tugu Pers Mendur dan arsip fotografi Mendur bersaudara, Pierre juga mendorong agar Alex dan Frans Mendur mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.
Menurut dia, perjuangan dan karya keduanya memiliki kontribusi penting dalam merekam perjalanan bangsa Indonesia.
“Alex dan Frans Mendur telah mengabadikan wajah perjuangan Indonesia. Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan mengabadikan jasa mereka?” kata Pierre.
Pierre memahami bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional memiliki mekanisme dan persyaratan yang harus dipenuhi.
Namun, ia berharap proses pengusulan dan penetapan tidak berhenti tanpa kepastian.
“Kalau seluruh persyaratannya memang terpenuhi, kami berharap proses pengusulan dan penetapan Alex dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional dapat diselesaikan,” ujarnya.
Menurut Pierre, penyelamatan Tugu Pers Mendur tidak cukup dilakukan dengan mengecat ulang dinding atau mengganti bagian kayu yang rusak.
Pemerintah perlu melihat kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya menyelamatkan memori bangsa.
Ia mengusulkan agar seluruh arsip yang masih tersisa segera diselamatkan dan didigitalisasi. Koleksi yang keberadaannya belum diketahui juga perlu ditelusuri.
Pada saat yang sama, bangunan Tugu Pers Mendur perlu direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah pers dan perjuangan Indonesia.
“Foto yang hilang tidak bisa dipotret kembali. Sejarah yang hilang tidak bisa di-restore seperti file komputer. Karena itu, yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan apa yang masih ada sebelum semuanya terlambat,” katanya.
Pierre berharap Tugu Pers Mendur tidak hanya menjadi simbol setiap bulan Agustus.
Tempat tersebut, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar, wartawan, peneliti dan masyarakat untuk mengenal sejarah perjuangan Indonesia melalui karya fotografi.
“Jangan menunggu rumah panggung itu roboh. Kita mungkin masih bisa membangun bangunan baru, tetapi ketika arsip sejarah hilang, kita tidak bisa membangun kembali ingatan yang sudah mati,” pungkas Pierre.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kata Pierre, seharusnya menjadi pengingat bahwa menghormati jasa para pejuang tidak cukup melalui upacara dan pidato.
Menjaga karya, arsip dan tempat yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan juga merupakan bentuk nyata penghormatan kepada mereka yang telah mengabadikan perjalanan Republik Indonesia.
Sebab, jangan sampai generasi mendatang bertanya, “Alex dan Frans Mendur itu siapa?” bukan karena mereka tidak peduli sejarah, melainkan karena generasi sebelumnya gagal menjaga dan mewariskan sejarah tersebut.






