JAKARTA — Fotografer profesional Roy Genggam Nusantoro tengah menyiapkan penerbitan tiga buku sekaligus. Ia berharap setidaknya satu judul bisa terbit pada akhir tahun ini.
“Semoga akhir tahun ini, terutama yang materinya sudah terkumpul,” ujar Roy, Senin (20/4), di studionya di kawasan Cirendeu, Jakarta Selatan.
Tiga buku tersebut masing-masing mengangkat tema berbeda. Pertama, buku tentang kehidupan gajah di Way Kambas, Lampung. Kedua, lanjutan seri “Memotret Pemotret”. Ketiga, buku perpaduan foto dan puisi.
Untuk buku gajah, Roy sudah mengantongi beberapa alternatif judul, salah satunya “Gajah Seto”. Ia mengaku kerap bolak-balik ke Way Kambas untuk memotret langsung kehidupan satwa tersebut.
Dari kunjungan itu, Roy menghasilkan sekitar 5.000 foto. Kurasi dilakukan oleh fotografer senior Oscar Matuloh hingga tersisa sekitar 200 foto pilihan.
“Bikin buku harus pakai rasa. Judulnya juga bisa berubah-ubah,” kata Roy.
Selain itu, Roy juga tengah menggarap buku konsep “foto berpuisi” atau “puisi berfoto”. Ia menulis puisi secara spontan, lalu memadukannya dengan karya visual.
“Kadang puisi dulu, kadang foto dulu,” ujarnya.
Saat ditanya buku mana yang akan lebih dulu terbit, Roy mengaku belum menentukan. “Lihat mood saja, yang jelas materinya sudah ada,” katanya.
Sebelumnya, Roy telah menerbitkan buku “Memotret Pemotret—Maestro Fotografi Indonesia” pada 2015. Buku itu memuat potret 23 fotografer senior Indonesia dalam format hitam-putih sebagai bentuk apresiasi dan pembelajaran.
Roy memulai karier sebagai fotografer majalah pada 1980-an sebelum akhirnya menjadi pekerja lepas dan mendirikan Genggam Studio di Cirendeu. Studio tersebut kini menjadi salah satu rujukan fotografer profesional dan klien korporasi.
Selain berkarya, Roy dikenal menjaga kedekatan dengan klien dan sahabat. Ia bahkan kerap menjamu tamu dengan masakan di studionya.
“Mau dimasakin apa?” kata Roy, menirukan kebiasaannya menyambut tamu.***






