PUISI – Di tengah gemerlap dunia yang memikat, manusia sering lupa bahwa ia menyimpan mutiara dalam dirinya. Muhammad Iqbal menulis:
آدم از بیبصری بندگی آدم کرد
گوهری داشت ولی نذرِ قباد و جم کرد
Ādam az bī-baṣarī bandagī-ye ādam kard,
Goharī dāsht valī nazr-e Qobād o Jam kard.
Manusia, karena kehilangan penglihatan batin, memperbudak dirinya pada sesama.
Padahal ia memiliki permata berharga—jiwa yang merdeka—yang justru dipersembahkannya kepada kekuasaan dunia.
Di sanalah puisi berubah menjadi cermin.
Saat keindahan sejati dipahami, rantai-rantai itu luruh.
Manusia tak lagi menjadi budak gemerlap, melainkan berdiri tegak sebagai dirinya sendiri—utuh, sadar, dan merdeka.






