Bisnis — Pada dasarnya, bisnis itu berdagang. Bedanya cuma satu: yang dijual bisa produk, bisa jasa. Namun apa pun bentuknya, yang dihadapi tetap manusia.
Karena itu, sebelum menjual barang atau layanan, pelaku usaha sejatinya sedang menjual diri sendiri. Yang ditawarkan bukan harga diri, melainkan nilai personal: sikap, integritas, kompetensi, dan cara memperlakukan orang lain.
Dalam makna positif, jual diri berarti berani mempertaruhkan karakter di ruang publik. Kejujuran, konsistensi, kemampuan menepati janji, serta cara menghadapi masalah menjadi bagian dari “produk” yang dinilai pembeli.
Produk bisa ditiru, harga bisa disaingi, tapi karakter penjual sulit digandakan.
Pepatah Tionghoa sejak lama mengingatkan, “Kalau tidak bisa tersenyum, jangan berdagang.” Senyum di sini bukan basa-basi, melainkan kemampuan mengendalikan ego saat ditawar, dikritik, bahkan diragukan.
Islam memberi teladan nyata melalui Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai pedagang jujur dan amanah jauh sebelum menjadi Rasul. Dagang dijalani dengan akhlak—tanpa tipu daya, tanpa emosi, dan tanpa mengorbankan kepercayaan.
Kearifan Jawa menyebutnya “segoro ning ati”—laut di dalam hati. Batin yang luas. Tidak meledak saat rugi, tidak pongah saat untung, dan tetap tenang menghadapi watak manusia yang beragam.
Tiga nilai lintas budaya itu bertemu di satu titik: bisnis adalah ujian watak. Banyak usaha tumbang bukan karena produknya buruk, melainkan karena pelakunya gagal “laku” secara sikap.
Sebab dalam jual beli, orang bukan cuma membeli barang atau jasa.
Mereka membeli rasa aman, kepercayaan,
dan karakter orang yang menjualnya.
Jual diri yang benar bukan merendahkan diri,
melainkan menjual kualitas diri dengan bermartabat.






