Oleh: Rinto Hartoyo Agus, SH, CTA
Wartawan itu seharusnya jadi pilar ke-4 demokrasi—pengawas kekuasaan dan kontrol sosial yang bikin negara tetap sehat. Tapi sekarang kondisinya berat. Banyak media gulung tikar, gaji kecil, dan tekanan politik tinggi. Akibatnya, sebagian wartawan memilih “menjilat” demi bertahan hidup. Padahal, setiap kompromi yang mengorbankan integritas adalah pengkhianatan profesi.
Saat Retreat Wartawan PWI 2026 di Balai Latihan Bela Negara, Rumpin, Menteri Pertahanan Syafrie Sjamsoeddin bilang, wartawan sekarang adalah “penjuru perang opini”. Artinya, wartawan bukan sekadar menyampaikan berita, tapi menjaga kebenaran informasi dan opini publik. Kalau integritas wartawan hilang, berita bisa disalahgunakan: hoaks, propaganda, atau memecah belah masyarakat—bahaya buat negara di masa depan.
Meski ekonomi dan tekanan politik berat, wartawan yang tetap jaga integritas itu seperti benteng terakhir demokrasi. Mereka yang menyerah pada kepentingan tertentu sama saja mengkhianati profesi dan melemahkan kontrol sosial.
Tapi ada harapan. Banyak wartawan masih berinovasi: memanfaatkan media digital, kerja sama lintas platform, dan jurnalisme investigasi. Ini bukti pilar ke-4 demokrasi masih bisa bertahan, asal ada dukungan nyata: model bisnis media yang sehat, perlindungan hukum, dan penghargaan bagi profesionalisme.
Di era perang opini ini, wartawan adalah garda terakhir kebenaran. Integritas mereka bukan sekadar soal profesi, tapi soal menjaga opini publik, kohesi sosial, dan ketahanan negara. Tanpa mereka, demokrasi bisa rapuh, opini publik mudah dimanipulasi, dan negara terancam oleh gelombang informasi yang salah arah.
Rinto Hartoyo Agus, SH, CTA






