Oleh Jaya Suprana
Pada usia 53 tahun, manusia terkaya di dunia menerima vonis dokter: sisa hidupnya tinggal satu tahun. Ia adalah John D. Rockefeller.
Hidup Rockefeller nyaris tanpa tanding. Pada usia 25 tahun, ia telah memiliki kilang minyak terbesar di Amerika Serikat. Enam tahun kemudian, ia memimpin perusahaan paling berkuasa di dunia. Usia 38 tahun, ia menguasai 90 persen produksi minyak nasional.
Setiap keputusan diambil dengan kalkulasi ketat. Setiap relasi dijadikan pengaruh. Setiap dolar diputar untuk menjadi lebih besar. Pada usia 50 tahun, Rockefeller mencatat sejarah sebagai miliarder pertama dunia—dengan kekayaan setara 340 miliar dolar AS saat ini.
Ia memenangkan permainan uang. Namun kalah dalam permainan kehidupan.
Memasuki usia 53 tahun, tubuhnya runtuh. Organ-organ melemah. Rasa sakit datang setiap hari. Rambut rontok. Makan hanya bisa sup dan biskuit. Mimpi lenyap. Kebahagiaan menguap. Para dokter memastikan: hidupnya tinggal satu tahun.
Di titik itu, Rockefeller tersadar. Manusia mustahil memiliki segalanya. Harta tak bisa dibawa ke alam baka. Ia bangun dari tidur panjang ambisi.
Ia memanggil para pengacara dan akuntan. Kekayaannya direorganisasi untuk rumah sakit, riset medis, dan kegiatan amal. Pada 1913, berdirilah The Rockefeller Foundation.
Dunia mulai berubah. Yayasan ini membiayai riset medis yang kelak mengantar Alexander Fleming menemukan penisilin—penemuan yang menyelamatkan jutaan nyawa. Pendidikan dan layanan kesehatan di berbagai belahan dunia ikut terdorong.






