Stigma “Bodrex” Dinilai Upaya Melemahkan Wartawan Kritis - Plus62.co

Stigma “Bodrex” Dinilai Upaya Melemahkan Wartawan Kritis

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 18:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi wartawan diintimidasi saat meliput kegiatan proyek (Foto.Plus62co/Kbr)

Ilustrasi wartawan diintimidasi saat meliput kegiatan proyek (Foto.Plus62co/Kbr)

JAKARTA,PLUS62.CO — Wartawan memiliki peran strategis sebagai pilar keempat demokrasi melalui fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan, kebijakan publik, serta berbagai peristiwa yang berdampak luas bagi masyarakat. Namun dalam praktiknya, peran tersebut di nilai kerap tidak berjalan ideal akibat tekanan dan kepentingan tertentu yang memengaruhi independensi pers.

Pemerhati pers, Rinto, menilai wartawan yang bersikap kritis dan konsisten mengungkap fakta justru sering mendapat stigma negatif. Mereka yang berani mengangkat isu-isu sensitif kerap di cap sebagai wartawan “mata duitan” atau di kenal dengan istilah bodrex. “Label itu bukan lahir dari kualitas karya jurnalistik, melainkan sebagai respons atas keberanian wartawan mengungkap fakta yang mengusik kenyamanan pihak tertentu,” ujarnya.

Baca Juga :  BMKG Mengeluarkan Peringatan Tsunami di Wilayah Indonesia Timur, Dampak Gempa di Rusia


Menurut Rinto, stigma bodrex kerap di gunakan sebagai alat untuk melemahkan integritas wartawan kritis. Padahal, tidak sedikit wartawan yang bekerja sesuai kode etik jurnalistik, mengedepankan verifikasi, serta membela kepentingan publik. Kritik dan pengungkapan fakta justru di persepsikan sebagai ancaman, sehingga muncul upaya delegitimasi terhadap profesi wartawan.

Di sisi lain, wartawan yang memilih bersikap pasif justru sering mendapat penilaian berbeda. Mereka yang tidak menulis, tidak bersuara, dan tidak mempertanyakan kejanggalan di lapangan kerap di sebut sebagai wartawan “pahlawan” karena di anggap aman dan tidak memicu konflik.

Padahal, sikap bungkam di nilai berbahaya bagi kepentingan publik. Ketika pers menutup mata terhadap penyimpangan, ketidakadilan, atau dugaan pelanggaran hukum, fungsi kontrol sosial tidak berjalan optimal. Akibatnya, masyarakat berpotensi kehilangan hak atas informasi yang benar, berimbang, dan akurat.

Baca Juga :  Monitor HBKB di Kembangan Walikota Iin Berinteraksi dengan Warga


Fenomena tersebut di nilai mencerminkan pembalikan makna dalam dunia pers. Wartawan yang bekerja mengungkap fakta justru di sudutkan, sementara wartawan yang kompromistis mendapat ruang dan pujian. Kondisi ini di khawatirkan dapat menciptakan iklim jurnalistik yang tidak sehat serta menggerus kepercayaan publik terhadap media.

Dalam situasi tersebut, wartawan di tuntut tetap berpegang pada idealisme dan etika profesi. Tekanan dan stigma tidak seharusnya menjadi penghalang dalam menyampaikan kebenaran. “Keberanian menyuarakan fakta merupakan inti dari kerja jurnalistik,” tegas Rinto.

Ia menambahkan, wartawan sejati tidak di ukur dari pujian atau stigma yang di lekatkan, melainkan dari konsistensinya dalam membela kepentingan publik. “Pada akhirnya, publik dan sejarah yang akan menilai siapa yang benar-benar menjalankan tugas jurnalistik dengan nurani dan tanggung jawab,” tutupnya.

Baca Juga :  Petugas Gabungan Evakuasi Pohon Tumbang di Jalan Gatot Subroto


(Rdw/Kbr)

Berita Terkait

Kekerasan Seksual di Pesantren Berulang, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai ke Jakarta, Pramono Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada
Dugaan Kekerasan Dua Anak di Pemalang Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Desak Terlapor Segera Ditahan
Pembuatan Biopori di Taman Jalan Permata Tegal Alur sebagai Upaya Pengelolaan Lingkungan
3 Pemuda di Kapuk Menjadi Korban Penganiayaan oleh OTK, 1 Orang Dibacok Tangan nyaris Putus
Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan, Timbulkan Kerusakan Lingkungan dan Habitat Satwa
Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi
Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 07:50 WIB

Kekerasan Seksual di Pesantren Berulang, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Minggu, 6 September 2026 - 17:58 WIB

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai ke Jakarta, Pramono Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada

Sabtu, 5 September 2026 - 09:25 WIB

Dugaan Kekerasan Dua Anak di Pemalang Naik Penyidikan, Kuasa Hukum Desak Terlapor Segera Ditahan

Jumat, 4 September 2026 - 13:27 WIB

Pembuatan Biopori di Taman Jalan Permata Tegal Alur sebagai Upaya Pengelolaan Lingkungan

Jumat, 4 September 2026 - 08:35 WIB

3 Pemuda di Kapuk Menjadi Korban Penganiayaan oleh OTK, 1 Orang Dibacok Tangan nyaris Putus

Berita Terbaru

Megapolitan

BKPRMI DKI Dorong Remaja Masjid Jadi Entrepreneur

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:21 WIB