OPINI – Masalah terbesar bangsa ini bukan kemiskinan. Bukan juga kekurangan orang pintar. Masalah terbesar kita adalah mental tidak disiplin yang sudah mendarah daging — dan anehnya, dibanggakan.
Indonesia mungkin satu-satunya negara yang menjadikan keterlambatan sebagai budaya. Datang telat dianggap santai. Acara molor dianggap biasa. Janji mundur dianggap wajar. Bahkan pejabat dan elite pun memberi contoh buruk tanpa rasa malu. Lalu kita heran kenapa negara ini jalan di tempat.
Sejak kecil kita dibesarkan tanpa pendidikan menghargai waktu. Tidak ada rasa bersalah ketika terlambat. Tidak ada konsekuensi ketika ingkar jadwal. Yang ada justru pembenaran: macet, hujan, santai saja, nanti juga mulai telat. Kalimat-kalimat kecil itu membentuk karakter besar: karakter bangsa yang tidak serius.
Kita bermimpi jadi negara maju, tapi mental masih seperti negara yang tidak punya tujuan. Negara maju bergerak dengan presisi waktu. Sementara di sini, waktu diperlakukan seperti barang murah. Disia-siakan, diulur, bahkan dirampok dari orang lain tanpa rasa bersalah.
Lebih parah lagi: banyak orang tersinggung kalau diingatkan soal disiplin. Kritik dianggap serangan. Ketepatan waktu dianggap kaku. Profesionalisme dianggap sok barat. Padahal kenyataannya sederhana — siapa yang tidak menghargai waktu, tidak akan pernah dipercaya memegang masa depan.
Jangan salahkan dunia kalau kita sulit dihormati. Bangsa yang tidak bisa mengatur waktunya sendiri tidak akan pernah mampu mengatur nasibnya. Selama “jam karet” masih jadi identitas, selama keterlambatan masih dimaklumi, selama disiplin masih dianggap remeh — Indonesia akan terus jadi bangsa yang sibuk bicara besar, tapi lambat bergerak.
Pedih memang.
Tapi mungkin bangsa ini memang perlu ditampar kenyataan: kita tidak kekurangan potensi. Kita hanya terlalu lama memelihara kemalasan yang dibungkus budaya.






