Opini – Setiap hari, koin emas mengalir deras ke kas Ladusing. Dari pajak kereta kuda, dari surat izin berkuda, dari denda parkir kereta chakra, dari segala urusan administrasi yang bisa diberi stempel resmi.
Rakyat Konoha menyebutnya:
“Mesin uang paling disiplin di negeri ini.”
Bayangkan saja.
Setiap tahun, aliran dana ke Ladusing mencapai triliunan koin emas. Cukup untuk membangun seribu balai desa.
Cukup untuk memberi mie ramen gratis setahun penuh bagi seluruh rakyat Konoha.
Bahkan cukup untuk membuat patung para jenderal Ladusing dari emas murni kalau mau.
Dengan dana sebesar itu, Ladusing menjadi institusi paling mapan di Konoha.
Markas kokoh. Kendaraan baru. Peralatan lengkap. Anggaran pelatihan, perjalanan, dan operasional nyaris tak pernah kering.
Di sinilah muncul bisik-bisik di warung kopi Konoha.
“Kalau sumber koinnya deras begini,” kata seorang warga sambil menyeruput teh,
“buat apa berubah?”
Temannya mengangguk pelan.
“Perubahan biasanya lahir dari krisis.
Kalau semua masih nyaman, siapa yang mau repot?”
Dana besar membuat Ladusing kuat.
Terlalu kuat, kata sebagian orang.
Mandiri secara finansial, berpengaruh secara politik, dan dominan di banyak urusan daerah.
Beberapa komandan wilayah bahkan lebih disegani daripada kepala distrik.
Kalau ada acara besar, kursi Ladusing selalu di depan.
Kalau ada proyek penting, Ladusing selalu dilibatkan.
Kalau ada konflik elite, Ladusing sering jadi penentu.
Kekuatan finansial ini membuat reformasi terasa seperti wacana yang sopan, tapi tidak mendesak.
Semua tahu perlu perubahan.
Tapi tak banyak yang benar-benar terdesak untuk berubah.
Komisi Reformasi Ladusing di Konoha pun menyadari satu hal: membenahi institusi yang kekurangan dana itu sulit,
tapi membenahi institusi yang kelebihan dana dan kekuasaan jauh lebih sulit.
Karena kenyamanan adalah musuh terbesar reformasi.
Selama aliran koin tetap deras,
selama kewenangan tetap luas,
selama pengawasan belum benar-benar tajam,
Ladusing akan selalu punya alasan untuk berkata:
“Perubahan? Ya… nanti. Pelan-pelan saja.”
Rakyat Konoha memahami realitas itu.
Mereka tidak bodoh.
Mereka tahu uang besar melahirkan kekuasaan besar.
Dan kekuasaan besar jarang menyerahkan dirinya tanpa tekanan.
Di sudut kota, seorang penjual ramen berkata santai,
“Kalau mau Ladusing berubah, bukan cuma aturan yang diubah. Aliran koin dan cara mengawasinya juga harus diubah.”
Semua yang mendengar hanya tersenyum.
Karena di negeri Konoha, semua orang tahu:
reformasi bukan sekadar niat baik.
Ia soal keberanian menyentuh sumber kekuasaan yang paling sensitif:
uang, kewenangan, dan kenyamanan.






