Wartawan: Ketika Idealisme Tunduk pada Kebutuhan - Plus62.co

Wartawan: Ketika Idealisme Tunduk pada Kebutuhan

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI, PLUS62.CO – Media mainstream pernah menjadi pilar utama informasi publik. Apa yang ditayangkan televisi, dimuat koran, atau disiarkan radio dianggap sebagai rujukan kebenaran. Media berada di posisi terhormat sebagai pengawas kekuasaan sekaligus penjaga demokrasi. Namun era digital perlahan mengubah semuanya. Kehadiran media sosial meruntuhkan dominasi media arus utama dan mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi.

Kini setiap orang bisa menjadi “media”. Dengan telepon genggam dan internet, siapa pun dapat menyebarkan berita, opini, bahkan siaran langsung dalam hitungan detik. Kecepatan menjadi mata uang utama. Akibatnya, media mainstream yang dahulu mengandalkan verifikasi dan proses editorial panjang mulai tertinggal dalam perlombaan algoritma digital.

Runtuhnya media mainstream bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan publik. Banyak masyarakat mulai menilai media arus utama terlalu dekat dengan kekuasaan dan pemilik modal. Di sisi lain, media sosial menawarkan kesan lebih spontan, bebas, dan autentik, meski sering kali dipenuhi hoaks dan manipulasi informasi.

Baca Juga :  Wali Kota Jakarta Pusat Arifin Kunjungi Kediaman Diding Boneng Usai Rumahnya Ambruk

Perubahan ini berdampak langsung pada nasib jurnalis. Pendapatan perusahaan media turun drastis karena iklan berpindah ke platform digital seperti Google, YouTube, TikTok, dan Meta. Banyak ruang redaksi melakukan efisiensi, pemotongan gaji, hingga PHK. Wartawan dituntut bekerja lebih cepat dengan beban yang semakin berat.

Di tengah situasi itu, idealisme jurnalis mulai diuji oleh kebutuhan ekonomi. Tidak sedikit media akhirnya bergantung pada kerja sama dengan pemerintah melalui advertorial, publikasi kegiatan, hingga kontrak pemberitaan. Hubungan yang seharusnya bersifat kritis perlahan berubah menjadi hubungan saling membutuhkan.

Akibatnya, banyak jurnalis kini berada di posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka memahami tugas pers sebagai alat kontrol sosial. Namun di sisi lain, realitas ekonomi memaksa mereka menjaga kedekatan dengan kekuasaan demi keberlangsungan media dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Durmogati, Laku Plonga-Plongo

Fenomena ini membuat batas antara jurnalis dan humas pemerintah menjadi semakin tipis. Kritik terhadap kebijakan sering melemah, sementara berita pencitraan pejabat justru mendominasi ruang publik. Media yang dahulu menjadi pengawas kekuasaan perlahan berubah menjadi perpanjangan tangan narasi pemerintah.

Tentu kondisi ini tidak bisa sepenuhnya menyalahkan wartawan. Sulit berbicara tentang idealisme ketika kesejahteraan jurnalis masih rendah dan masa depan industri media tidak menentu. Banyak wartawan bekerja di bawah tekanan tinggi dengan penghasilan minim. Dalam keadaan seperti itu, independensi sering menjadi kemewahan yang sulit dipertahankan.

Namun jika keadaan ini terus dibiarkan, dampaknya jauh lebih berbahaya. Publik akan kehilangan kepercayaan terhadap media. Pers tidak lagi dipandang sebagai sumber kebenaran, melainkan sekadar alat propaganda kekuasaan dan kepentingan tertentu. Ketika kepercayaan publik runtuh, demokrasi ikut melemah.

Baca Juga :  Stigma “Bodrex” Dinilai Upaya Melemahkan Wartawan Kritis

Karena itu, masa depan jurnalistik tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan atau viralitas. Media harus kembali membangun kredibilitas, sementara kesejahteraan jurnalis juga perlu diperbaiki agar mereka tidak terus terjebak dalam kompromi kepentingan.

Di era banjir informasi saat ini, tantangan terbesar jurnalis bukan hanya melawan hoaks atau tekanan politik, tetapi juga mempertahankan nurani di tengah kebutuhan ekonomi yang semakin keras. Sebab pada akhirnya, yang membuat pers tetap hidup bukan sekadar teknologi atau platform, melainkan keberanian menjaga kebenaran ketika semuanya mulai bisa dibeli oleh kepentingan.

Berita Terkait

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi
Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah
Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data
Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers
Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga
‎Ahmad Alfan Sah Jadi Ketua Pk Kecamatan Sindang Jaya Partai Golongan Karya Kabupaten Tangerang
Wakil Wali Kota Jakpus Pimpin Penertiban Rumah Dinas PAM Jaya
Fotografer Roy Genggam Siapkan Buku Gajah, Fotografi, dan Puisi

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 23:13 WIB

Milad Ke-7 Media Lensa Polri, Mengalap Berkah dengan Berbagi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Penanggulangan Gempa NTT, Menkeu Purbaya Alokasikan Anggaran 5 Triliun Rupiah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Yandri Nalle Kecam Pernyataan Bimo soal Camat Kresek: Jangan Bangun Opini Tanpa Data

Senin, 20 Juli 2026 - 13:16 WIB

Usai Sebut Wartawan “Lu Punya Otak Enggak Sih” Hotman Paris Minta Maaf ke Insan Pers

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:53 WIB

Makan Siang Gratis di Lingkungan RW 011 Tegal Alur, Wujud Kepedulian Sosial bagi Warga

Berita Terbaru

TNI & Polri

Menembus Gambut, Tim Mabes TNI Padamkan Sisa Api Karhutla

Minggu, 30 Agu 2026 - 12:06 WIB