HISYORY – Panglima Wangkang, atau Demang Wangkang bergelar Mas Demang, lahir di Marabahan pada tahun 1812. Ia bukan sekadar pemimpin perang, tetapi simbol perlawanan rakyat Bakumpai dalam Perang Banjar melawan kolonial Belanda. Ia berdarah Dayak Bakumpai dan Banjar. Ayahnya, Pambakal Kendet, adalah pemimpin suku sekaligus pejuang. Ibunya, Ulan dari Amuntai, perempuan Banjar yang menurunkan semangat juang ke dalam darahnya. Dari garis keturunan inilah lahir seorang hulubalang yang kelak dikenang sebagai penjaga tanah Bakumpai.
Sejak muda, Wangkang tumbuh dalam suasana perlawanan. Tanah Kalimantan Selatan saat itu bukan hanya medan dagang, tetapi juga medan tempur melawan dominasi Belanda yang terus memperluas kekuasaan. Ketika Perang Banjar berkobar, Wangkang berdiri di garis depan. Ia tidak hanya memimpin, tetapi menjadi simbol harapan rakyat yang menolak tunduk pada penjajahan.
Di Marabahan, ia bersekutu dengan Tumenggung Surapati. Keduanya sepakat melancarkan serangan ke ibu kota Banjarmasin—pusat kekuasaan Belanda di wilayah itu. Pada 25 November 1870, Panglima Wangkang memimpin sekitar 500 pasukan meninggalkan Marabahan menuju Banjarmasin. Serangan itu berani, hampir nekat. Pertempuran pecah di dalam kota. Namun kekuatan Belanda jauh lebih besar dan persenjataan mereka lebih modern. Demi menyelamatkan pasukan, Wangkang memerintahkan mundur.
Ia tidak kembali ke pertahanan lama. Bersama pengikutnya, ia bergerak ke Sungai Durrakhman, menyusun kekuatan kembali. Namun Belanda telah membaca arah perlawanan. Pada akhir Desember 1870, pasukan Belanda datang dengan kekuatan penuh: 150 serdadu, 8 opsir, tambahan dari Surabaya, bahkan dibantu pasukan Dayak di bawah Suto Ono. Sebelum mencapai Sungai Durrakhman, mereka lebih dulu menyisir Marabahan—yang telah kosong.
Benteng pertahanan Wangkang akhirnya ditemukan. Pertempuran tak terhindarkan. Di sana, di tepian sungai dan tanah yang ia pertahankan, Panglima Wangkang bertempur hingga akhir hayatnya. Ia gugur sebagai hulubalang, bukan sebagai orang yang menyerah. Kematian itu bukan akhir perlawanan, tetapi penegasan bahwa tanah Bakumpai tidak pernah diberikan secara cuma-cuma.
Kisah Panglima Wangkang adalah kisah tentang keberanian dan kesakitan. Tentang seorang pemimpin yang melihat tanahnya direbut, rakyatnya ditekan, dan memilih melawan meski tahu kekuatan tak seimbang. Ia berdiri di antara sejarah yang sering dilupakan: perlawanan rakyat daerah yang mempertahankan martabatnya dengan darah.
Hari ini, nama Panglima Wangkang mungkin tidak sepopuler tokoh nasional lain. Namun di tanah Barito Kuala dan Marabahan, jejaknya tetap hidup. Ia adalah hulubalang yang menolak tunduk. Ia adalah suara perlawanan dari sungai-sungai Kalimantan.
Sumber singkat:
M. Gazali Usman – Kerajaan Banjar (1994)
Nikmah A. Sunardjo – Syair Sultan Mahmud Dilingga & Syair Perang Banjarmasin (1992)
Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto – Sejarah Nasional Indonesia (1992)






