Banda Aceh – Tokoh muda Aceh, Zam Zam Mubarak, menilai historiografi Nusantara selama ini terlalu berfokus pada wilayah pesisir dan kerajaan besar, sementara kawasan pedalaman yang menyimpan jejak peradaban awal kerap terpinggirkan. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Aceh Gayo.
Zam Zam menjelaskan, sejak abad ke-10 M, Gayo di sekitar Danau Laut Tawar telah menunjukkan peradaban mapan dengan sistem sosial, kosmologi leluhur, teknologi pertanian, dan struktur kekuasaan lokal.
Menurutnya, pelabelan Gayo sebagai wilayah pinggiran Aceh menutup fakta bahwa daerah ini adalah salah satu simpul awal Nusantara.
Ia juga menyoroti kesamaan budaya antara Gayo dan wilayah Danau Toba di Sumatera Utara, termasuk tradisi megalitik, simbol lingga, dan struktur marga, yang menunjukkan adanya migrasi dan percampuran manusia lintas generasi.
Zam Zam menyinggung hipotesis bahwa sebagian leluhur Batak memiliki akar dari Gayo, menekankan bahwa ini adalah temuan historis, bukan klaim politis.
Zam Zam menegaskan bahwa pengakuan terhadap peran Aceh Gayo bukan ancaman terhadap identitas mana pun, melainkan langkah penting untuk melengkapi narasi sejarah Nusantara.
“Aceh Gayo adalah fondasi sunyi Nusantara, dan sudah saatnya fondasi itu diangkat ke permukaan,” pungkasnya.






