Sunda Wiwitan, Keyakinan Sunyi dari Tanah Parahyangan - Plus62.co

Sunda Wiwitan, Keyakinan Sunyi dari Tanah Parahyangan

- Jurnalis

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber poto : id.wikipedia.org

Sumber poto : id.wikipedia.org

History – Sejak jauh sebelum peta digambar dan agama-agama besar dikenal, masyarakat Sunda telah memiliki cara sendiri untuk memahami hidup dan menyapa Yang Maha Kuasa. Cara itu dikenal sebagai Sunda Wiwitan, ajaran awal yang tumbuh bukan dari kitab tertulis atau perintah langit yang menggelegar, melainkan dari pengalaman panjang manusia membaca alam dan mendengar bisikan kehidupan.

Di tanah yang dikelilingi gunung, hutan, dan aliran sungai, orang Sunda belajar bahwa hidup bukan untuk menaklukkan, melainkan menjaga keseimbangan. Tuhan mereka pahami sebagai kekuatan tertinggi yang tak berwujud dan tak terikat rupa, yang disebut Sang Hyang Kersa, Yang Maha Menghendaki, hadir dalam diam dan keteraturan semesta.


Dalam ajaran ini, keimanan tidak diukur dari banyaknya ritual, melainkan dari laku hidup sehari-hari. Manusia ditempatkan bukan sebagai penguasa alam, tetapi sebagai penjaga. Prinsip hidup seperti silih asih, silih asah, silih asuh lahir dari kesadaran bahwa kehidupan hanya akan lestari bila dijalani dengan saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling merawat.

Baca Juga :  Kementerian Agama Tetapkan Idul Adha 1446 H Jatuh pada 6 Juni 2025

Nilai-nilai tersebut diwariskan secara lisan, dari orang tua ke anak, dari kebiasaan kecil hingga aturan hidup yang tak tertulis namun ditaati.


Ketika agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen hadir di Nusantara, masyarakat Sunda mengalami perubahan besar. Sejarah mencatat bahwa proses tersebut berlangsung melalui perjumpaan panjang, akulturasi, dan penyesuaian sosial. Banyak orang Sunda kemudian memeluk agama-agama tersebut, mengikuti ajaran dan tata ibadah baru, namun tidak serta-merta melepaskan seluruh nilai lama.

Jejak Sunda Wiwitan tetap hidup dalam adat, sikap hidup, dan cara memandang alam. Nama ajarannya mulai jarang disebut, tetapi ruhnya tetap berdenyut pelan di balik kehidupan sehari-hari.


Seiring masuknya kolonialisme dan terbentuknya negara modern, definisi agama dipersempit ke dalam kategori administratif—harus memiliki kitab, nabi, dan struktur formal. Dalam kerangka ini, Sunda Wiwitan lebih sering dicatat sebagai kepercayaan atau adat, bukan agama. Posisi tersebut membuat ajaran ini semakin tersingkir dari ruang publik dan pendidikan formal. Namun, para peneliti kebudayaan dan antropolog mencatat bahwa sistem nilai Sunda Wiwitan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan menyusut dan bertahan dalam bentuk yang lebih sunyi.

Baca Juga :  Ponpes Al Bushaeriyyah Peringati Milad Ke-4 Teguhkan Spirit Aswaja


Hingga kini, pemeluk Sunda Wiwitan masih ada, meski jumlahnya tidak besar dan tersebar. Sebagian hidup dalam komunitas adat yang menjaga ajaran leluhur sebagai laku hidup, bukan identitas formal.

Masyarakat Baduy di Banten kerap disebut dalam kajian antropologi sebagai salah satu contoh komunitas yang masih mempertahankan tata kehidupan berbasis hukum adat dan keseimbangan alam. Di luar itu, banyak pula keluarga Sunda yang secara administratif memeluk agama resmi, namun dalam kesehariannya tetap menjalankan nilai-nilai lama—hidup sederhana, menghormati alam, dan menahan diri dari sikap berlebihan.
Sunda Wiwitan tidak pernah mengenal dakwah atau keinginan untuk memperluas pengaruh. Ia berjalan pelan, nyaris tak terdengar, seperti doa yang diucapkan dalam hati. Karena itulah, dalam dunia yang semakin bising, ia sering dianggap telah hilang.

Baca Juga :  RW 011 Rojali Kembali Gelar Pengajian Bulanan, Ketua RT dan Pengurus Kompak Hadir

Padahal, yang memudar hanyalah namanya, bukan ajarannya. Nilai-nilainya tetap hidup sebagai etika, sebagai rasa, sebagai kesadaran bahwa setiap tindakan manusia memiliki akibat bagi alam dan kehidupan.
Pada akhirnya, Sunda Wiwitan bukan soal berapa banyak orang yang masih menyebut dirinya sebagai pemeluknya. Ia adalah pengingat tua yang tinggal di lapisan paling dalam kesadaran manusia.

Ia mengajarkan bahwa Tuhan tidak selalu hadir dalam suara keras dan simbol gemerlap, kadang Ia datang sebagai diam yang panjang, sebagai peringatan lembut yang hanya bisa didengar oleh hati yang mau berhenti sejenak.

Dan mungkin, ketika manusia modern mulai lelah oleh hiruk-pikuk dunia, bisikan tua itulah yang pelan-pelan memanggil mereka pulang—bukan ke masa lalu, melainkan ke keseimbangan yang pernah mereka miliki.

Berita Terkait

Tarekat: Jalan Spiritual Kaum Sufi dan Jejak Perjuangan Melawan Penjajah
Ponpes Al Bushaeriyyah Peringati Milad Ke-4 Teguhkan Spirit Aswaja
RW 011 Rojali Kembali Gelar Pengajian Bulanan, Ketua RT dan Pengurus Kompak Hadir
Wujudkan Sinergi Kemanfaatan Kurban, Bakrie Amanah Tebar 440 Hewan Kurban
PWI Jakarta Barat Sembelih Tiga Kambing dalam Kegiatan Kurban di Tengah Pemukiman Warga
Kementerian Agama Tetapkan Idul Adha 1446 H Jatuh pada 6 Juni 2025

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:53 WIB

Tarekat: Jalan Spiritual Kaum Sufi dan Jejak Perjuangan Melawan Penjajah

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:55 WIB

Sunda Wiwitan, Keyakinan Sunyi dari Tanah Parahyangan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 04:43 WIB

Ponpes Al Bushaeriyyah Peringati Milad Ke-4 Teguhkan Spirit Aswaja

Senin, 29 Desember 2025 - 22:23 WIB

RW 011 Rojali Kembali Gelar Pengajian Bulanan, Ketua RT dan Pengurus Kompak Hadir

Sabtu, 7 Juni 2025 - 15:26 WIB

Wujudkan Sinergi Kemanfaatan Kurban, Bakrie Amanah Tebar 440 Hewan Kurban

Berita Terbaru

Nasional

Siklon Tropis dan Pemanasan Global Perparah Bencana Sumatra

Selasa, 10 Feb 2026 - 13:23 WIB

Kolom

HPN: Lebarannya Wartawan, Pesta Besar Insan Pers

Senin, 9 Feb 2026 - 08:36 WIB

Sumber Instagram @kesultananbanjar_official

Sejarah & Arkeologi

Pahlawan Banjar, Panglima Wangkang: Darah Bakumpai yang Menolak Tunduk

Minggu, 8 Feb 2026 - 20:34 WIB