Oleh Jaya Suprana
Nama Venezuela kembali ramai disebut. Bukan karena minyak. Bukan pula karena sepak bola. Melainkan oleh peristiwa politik yang mengundang decak: penangkapan Presiden Venezuela dan istrinya oleh Presiden Amerika Serikat—ironisnya, bukan di Washington DC, melainkan di Caracas.
Di balik hiruk-pikuk itu, ada satu hal menarik yang kerap luput diperhatikan. Nama resmi negara tersebut bukan sekadar Venezuela. Lengkapnya: República Bolivariana de Venezuela—Republik Bolivarian Venezuela.
Mengapa ada kata Bolivariana?
Jawabannya membawa kita pada satu nama besar dalam sejarah Amerika Latin: Simón Bolívar.
Sejak 1999, Venezuela secara resmi menambahkan nama Bolívar ke dalam identitas negaranya. Presiden Hugo Chávez yang mengesahkannya. Tujuannya jelas: menghidupkan kembali nasionalisme dan menegaskan warisan sejarah. Bolívar bukan sekadar pahlawan. Ia adalah simbol pembebasan.
Simón Bolívar lahir di Caracas pada 24 Juli 1783. Ia wafat di Santa Marta, Kolombia, pada 17 Desember 1830. Dalam rentang hidupnya yang relatif singkat, ia memimpin perjuangan kemerdekaan melawan Kerajaan Spanyol di sebagian besar Amerika Selatan.
Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, Bolivia, hingga Panama—semuanya disentuh oleh jejak perjuangannya. Karena itulah ia dijuluki El Libertador: Sang Pembebas.
Nama lengkapnya nyaris sepanjang paragraf: Simón José Antonio de la Santísima Trinidad Bolívar Ponte y Palacios Blanco. Sejarah kemudian memilih cara yang lebih praktis: cukup Simón Bolívar.
Tak banyak tokoh dunia yang pernah menjadi presiden di empat negara berbeda. Bolívar melakukannya. Venezuela, Kolombia, Peru, dan Bolivia. Bahkan menurut catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), rekor itu belum tertandingi hingga kini.
Menariknya, Bolívar bukan pribumi Amerika Selatan. Ia berasal dari keluarga Criollo—keturunan Spanyol yang lahir dan besar di tanah jajahan. Kakek buyutnya bangsawan Spanyol. Ibunya pun berasal dari keluarga ningrat.
Namun cinta pada tanah kelahiran tak selalu ditentukan oleh garis darah.
Bolívar memilih memimpin perlawanan terhadap Spanyol. Ia mengorbankan harta, tenaga, dan hidupnya demi kemerdekaan wilayah-wilayah yang ia anggap sebagai tanah air. Di Amerika Selatan, ia dikenang sebagai pahlawan. Di Spanyol, ia dicap pengkhianat.
Dua sudut pandang. Satu tokoh.
Bagi kerajaan kolonial, Bolívar adalah pemberontak berbahaya. Sosok yang meruntuhkan kekuasaan dan kepentingan imperium. Tak heran jika Spanyol lama menolak mengakui kemerdekaan negara-negara yang dibebaskannya.
Sejarah memang kerap bergantung pada posisi berdiri.
Indonesia mengenal paradoks serupa. Raymond Westerling, perwira Belanda yang ditugaskan merebut kembali Hindia Belanda pasca-Proklamasi 1945. Di Indonesia, namanya identik dengan pembantaian dan kejahatan perang di Sulawesi Selatan.
Di Belanda, Westerling justru menerima tanda jasa.
Pahlawan bagi satu pihak, penjahat bagi pihak lain.
Begitulah Simón Bolívar dalam cermin sejarah. Dan mungkin karena itulah Venezuela merasa perlu mengabadikan namanya di jantung identitas negara: Bolivarian—sebuah sikap, bukan sekadar nama.






