OPINI — Di negeri ini, rasa malu tampaknya sudah resmi pensiun dini. Bukan karena di-PHK, tapi karena jarang dipakai.
Setiap kali muncul kebijakan yang bikin rakyat mengernyit, kita disuguhi hal yang sama: konferensi pers panjang, grafik warna-warni, dan kalimat yang terdengar canggih tapi tak menjawab apa-apa.
Kalau ada yang salah?
Itu salah persepsi.
Kalau blunder?
Itu miskomunikasi.
Kalau gagal?
Itu dinamika.
Rasa bersalah diganti narasi. Tanggung jawab diganti klarifikasi.
Rakyat pun belajar satu hal: di negeri ini, yang cepat bukan perbaikan, tapi pembelaan diri.
Lucunya, kata “evaluasi” selalu muncul. Hanya saja evaluasinya seperti sinetron: bersambung, tapi tak pernah tamat.
Namun menyebut seluruh bangsa tak punya malu tentu berlebihan. Yang kehilangan malu mungkin hanya sebagian kecil yang terlalu lama berdiri di panggung kekuasaan hingga lupa bahwa publik punya mata dan ingatan.
Karena sejatinya, rasa malu itu bukan kelemahan. Ia alarm. Dan ketika alarm dimatikan terus-menerus, yang datang biasanya bukan tepuk tangan — melainkan badai.
Tapi tenang saja.
Selama rakyat masih bisa tertawa pahit, artinya kesadaran belum padam.






