JAKARTA — Rangkaian Tri Hari Suci di berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhusyukan. Sejak Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah hingga Misa Pontifikal, ribuan umat memadati gereja untuk mengikuti perayaan iman yang menjadi puncak kalender liturgi umat Katolik.
Di balik suasana yang khidmat, terdapat kerja senyap berbagai pihak yang memastikan seluruh rangkaian berjalan lancar. Koordinasi lintas unsur menjadi kunci, mulai dari aparat keamanan, relawan, hingga masyarakat sekitar.
Peran Seksi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Katedral menjadi salah satu penopang utama. Di bawah koordinasi Hendrik Baria, tim HAAK aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak guna menjaga situasi tetap kondusif selama perayaan berlangsung.
Kontribusi mereka mungkin tak tampak di altar, namun terasa dalam setiap detail. Alur keluar-masuk umat tertata rapi, lingkungan terjaga, serta suasana ibadah tetap aman dan nyaman. Sinergi ini mencerminkan wajah Gereja yang hadir di tengah masyarakat majemuk.
Usai seluruh rangkaian kegiatan, para anggota HAAK berkesempatan bertemu dengan . Dalam suasana hangat dan sederhana, mereka menyampaikan ucapan Selamat Paskah sekaligus ungkapan syukur atas kelancaran seluruh rangkaian Tri Hari Suci.
Pertemuan tersebut menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia mencerminkan relasi erat antara gembala dan umat, serta menegaskan bahwa keberhasilan perayaan bukan semata soal teknis, melainkan buah dari iman, dedikasi, dan kebersamaan.
Tri Hari Suci di Katedral Jakarta tahun ini meninggalkan pesan kuat: dalam kebersatuan dan kerja sama, terang Paskah tidak hanya dirayakan, tetapi juga dihidupi—menjadi kesaksian nyata kasih dan damai di tengah kehidupan bersama.






