Yogyakarta, 27 Januari 2026 — Sepotong sejarah sosial Jawa terus memantik rasa ingin tahu. Wong Kalang, komunitas etnis Jawa yang disebut-sebut eksis sejak sebelum masuknya Hindu-Budha, kini tak lagi terlihat sebagai kelompok yang berdiri sendiri. Tim investigasi Tempo menelusuri sisa-sisa jejak mereka di sejumlah wilayah, termasuk Kota Gede (Yogyakarta) dan Kabupaten Nganjuk (Jawa Timur), untuk melihat apakah keturunan mereka masih hidup di tengah masyarakat modern.
Jejak paling konkret ditemukan di Kota Gede, yang dulu menjadi salah satu pusat komunitas Wong Kalang. Bangunan tua bergaya arsitektur campuran Jawa-Eropa di kawasan Tegalgendu dan Mondorakan masih berdiri sebagai peninggalan sosial ekonomi kelompok ini. Rumah keluarga B.H. Noerijah, yang dikenal dalam cerita lisan sebagai “Tembong”, menjadi landmark penting dalam penelitian sejarah komunitas Wong Kalang.
Sejumlah dokumen bangunan cagar budaya menunjukkan bahwa rumah-rumah tersebut merupakan milik saudagar terpandang pada masanya.
Namun, dokumen kepemilikan modern memperlihatkan bahwa tanah dan bangunan itu telah berpindah tangan berulang kali, tanpa ada pewaris langsung yang masih mengaku garis keturunan Kalang. “Keluarga pemilik lama sudah melebur, identitas mereka berubah menjadi bagian dari masyarakat Jawa pada umumnya,” kata seorang ahli sejarah lokal yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Fenomena yang sama juga terlihat di Nganjuk, Jawa Timur. Penemuan makam-makam kuno di beberapa desa, termasuk makam dengan struktur berbeda dari tradisi pemakaman umum, memicu pembahasan tentang orang-orang yang pernah hidup di luar struktur adat mayoritas. Temuan arkeologis itu menjadi satu-satunya bukti fisik keberadaan Wong Kalang di masa lalu, bukan komunitas hidup yang masih aktif hingga hari ini.
Dalam wawancara dengan warga tua di Tegalgendu dan Desa Gondang Wetan, banyak yang menceritakan nama Wong Kalang dengan nuansa sejarah dan rasa penasaran. “Dulu mereka dikenal tertutup dan disiplin. Tapi mereka sudah lama tidak sebagai kelompok yang bisa dikenali sekarang,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.
Menurut antropolog Universitas Gadjah Mada yang mempelajari etnografi Jawa, banyak faktor yang menyebabkan identitas Wong Kalang lenyap sebagai kelompok tersendiri. Asimilasi sosial, pergeseran struktur ekonomi, serta perubahan politik dari era kolonial sampai Republik Indonesia membuat komunitas ini lebih memilih melebur ke dalam masyarakat mayoritas daripada mempertahankan label identitas lama.
Hingga saat ini, tidak ada keluarga yang secara sadar mengidentifikasi diri sebagai “Wong Kalang” dalam sensus modern atau data demografis. Jejak mereka hanya tersisa dalam bentuk artefak, bangunan tua, dan cerita tutur yang direkam di arsip sejarah dan wawancara etnografi. Mitos-mitos tentang kesaktian atau kekayaan tersembunyi yang selama ini melekat pada nama Wong Kalang pun lebih banyak berakar dari stereotip sosial ketimbang bukti faktual.
Penelusuran ini menunjukkan bahwa Wong Kalang bukan punah sebagai garis keturunan biologis, tetapi identitas sosialnya telah terhapus secara historis dan mengganti nama serta cara hidup seiring waktu. Jejak terakhir yang bisa dilihat hari ini adalah sejarah material dan lisan, bukan komunitas hidup yang masih berdiri sendiri.






