Di Antara Diagnosis dan Benang Rajut, Dr. Zuhria Menemukan Dirinya - Plus62.co

Di Antara Diagnosis dan Benang Rajut, Dr. Zuhria Menemukan Dirinya

- Jurnalis

Senin, 13 April 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Hari-hari Zuhria Novianty berjalan cepat. Pagi dimulai dengan pasien, siang diisi tanggung jawab medis, dan malam sering kali masih menyisakan pekerjaan yang belum selesai.

Di balik jas dokter yang ia kenakan, ada satu sisi dirinya yang lama sempat terdiam.

Sampai suatu hari, ia kembali memegang benang.

Bukan tanpa alasan. Di tengah ritme hidup yang terus berlari, Zuhria mulai merasakan kebutuhan sederhana: berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk kembali mendengar dirinya sendiri.

Baca Juga :  Pemprov DKI Gelar Jakarta SOLID, Tekankan Peran Publik Tangkal Hoaks di Era AI

Benang demi benang ia rangkai perlahan.

Tak ada target. Tak ada tekanan. Hanya gerakan kecil yang berulang—namun justru di situlah ia menemukan ketenangan yang selama ini terasa jauh.

Sejak kecil, Zuhria memang akrab dengan dunia keterampilan tangan. Ia pernah membuat berbagai kerajinan secara otodidak, dari yang sederhana hingga yang membutuhkan ketelatenan. Namun, seiring waktu dan pilihan hidup yang membawanya ke dunia kedokteran, semua itu sempat tertinggal.

Hidup kemudian berjalan cepat.

Ia menjadi dokter. Menjadi istri. Menjadi ibu.

Baca Juga :  Panitia Kongres VII PIKI Sosialisasikan Agenda 2026 ke Pimpinan Redaksi

Peran demi peran hadir, membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang tak ringan. Di titik itu, tanpa ia sadari, ruang untuk dirinya sendiri perlahan menghilang.

Hingga akhirnya ia kembali merajut.

Dan dari aktivitas sederhana itu, Zuhria menemukan sesuatu yang tidak ia dapatkan di ruang praktik: jeda.

“Merajut itu seperti berbicara dengan diri sendiri,” katanya pelan.

Setiap simpul seolah menjadi cara untuk merapikan pikiran. Setiap hasil yang terbentuk mengingatkannya bahwa proses, sekecil apa pun, tetap punya arti.

Baca Juga :  Dua Transfer Tanpa Persetujuan, Rp273 Juta dari Rekening Suwito Mengarah ke MNC Bank

Kini, merajut bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia menjadi ruang sunyi yang justru paling bermakna. Tempat Zuhria menyeimbangkan hidup—antara tuntutan profesional dan kebutuhan personal.

Kisahnya sederhana, namun relevan bagi banyak orang: bahwa di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, ada nilai dalam berhenti sejenak.

Dan kadang, ketenangan itu tidak datang dari hal besar.

Cukup dari seutas benang, dan waktu yang kita berikan untuk diri sendiri.

Berita Terkait

Sidang Paripurna HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, Sejumlah Wartawan Mengaku Tak Bisa Masuk
Ribuan Obat Sitaan Jadi Sorotan, Data BAST Satpol PP Jakpus Dipertanyakan
Letjen Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu
UKW PWI Jaya ke-66 Selesai, 20 Wartawan Kompeten
Rumah Pena Foundation Dorong Pelajar SMAN 84 Bijak Bermedia Sosial
Wakil Ketua KI DKI Luqman Hakim: Informasi Publik Harus Adaptif di Era AI
Wali Kota Jakarta Pusat Dorong Pers Edukasi Warga Pilah Sampah dari Rumah
Bimbel Mingguan BPAY Dorong Anak Yatim Raih Cita-Cita

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:12 WIB

Sidang Paripurna HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, Sejumlah Wartawan Mengaku Tak Bisa Masuk

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Ribuan Obat Sitaan Jadi Sorotan, Data BAST Satpol PP Jakpus Dipertanyakan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:31 WIB

Letjen Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:42 WIB

UKW PWI Jaya ke-66 Selesai, 20 Wartawan Kompeten

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:37 WIB

Wakil Ketua KI DKI Luqman Hakim: Informasi Publik Harus Adaptif di Era AI

Berita Terbaru

Megapolitan

Letjen Cantiasa: PHDI Harus Jadi Rumah Besar Umat Hindu

Rabu, 7 Okt 2026 - 17:31 WIB

Megapolitan

UKW PWI Jaya ke-66 Selesai, 20 Wartawan Kompeten

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:42 WIB