JAKARTA,PLUS62.CO – Wakil Ketua Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta Luqman Hakim Arifin menyatakan, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dapat mengoptimalkan distribusi informasi publik agar lebih luas, akurat, dan merata.
Menurut Luqman, pola konsumsi informasi masyarakat saat ini telah mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya platform berbasis kecerdasan buatan.
“Konsumsi informasi masyarakat di era AI saat ini mengalami perubahan. Kalau dulu mungkin orang mengakses berita di website, tetapi saat ini justru bergeser ke AI Overview. Karena itu, berita-berita yang ada di KI mesti dibuat dengan mempertimbangkan tren AI ini,” ujar Luqman dalam FGD bertajuk “Keterbukaan Informasi Publik di Era AI: Peran Pers dan Media Siber”, Senin (5/10/2026).
Luqman menegaskan, pelaksanaan FGD tersebut menjadi momentum penting untuk memperoleh wawasan, masukan, dan rekomendasi dalam memperkuat keterbukaan informasi publik (KIP) di era digital.
Menurutnya, KIP memiliki keterkaitan erat dengan pers dan media, khususnya dalam proses penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
“Melalui FGD ini, harapannya dapat menghasilkan catatan serta rekomendasi konkret untuk memperkuat sinergi dengan media, sehingga sosialisasi dan edukasi KIP semakin dikenal, dipahami, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta,” katanya.
Sementara itu, narasumber FGD, Ilona Juwita, menyampaikan bahwa AI kini mulai menjadi salah satu sumber masyarakat dalam mencari dan memperoleh informasi berita.
Mengutip data Reuters Institute Digital News Report 2026, Ilona menyebut sebanyak 12 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan AI chatbot sebagai sumber berita mingguan. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia.
Selain itu, tingkat kepercayaan pengguna setelah mencoba AI mencapai 44 persen. Sementara lebih dari sepertiga atau 33 persen masyarakat Indonesia disebut mengakses ChatGPT setiap bulan.
“Perubahan perilaku ini memicu fenomena zero-click, di mana 68 persen pencarian di AS pada awal 2026 berakhir tanpa klik ke situs web. Meskipun konten dikutip oleh AI, belum tentu menghasilkan traffic langsung ke media. Oleh karena itu, kita perlu beradaptasi dari sekadar SEO (Search Engine Optimization) menuju GEO (Generative Engine Optimization),” jelas Ilona.
Menurut Ilona, pergeseran metrik dari sekadar “klik” menjadi “dikutip” menuntut media untuk menerapkan strategi baru. Dalam kerangka GEO, sistem AI mengutamakan fakta yang jelas, struktur informasi yang baik, serta kredibilitas tinggi dengan mengedepankan prinsip Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness.
Ilona juga menilai konten lokal memiliki peluang besar untuk dilirik sistem AI. Menurutnya, media lokal yang menyajikan laporan langsung dari lapangan serta mengangkat isu hyperlocal memiliki keunggulan karena persaingan informasi relatif lebih rendah dan karakter informasinya lebih spesifik.
“Situs berita atau media lokal yang menyajikan reportase first-hand dan isu hyperlocal punya keunggulan struktural karena persaingan yang lebih rendah dan kekhasan informasi yang tinggi,” pungkas Ilona.
Senada dengan hal tersebut, Penerus Bonar menekankan pentingnya kolaborasi antara Komisi Informasi dan media dalam mengarusutamakan isu keterbukaan informasi publik.
Menurut Bonar, di era AI, pendistribusian informasi secara masif melalui berbagai media berpotensi membuat informasi tersebut masuk ke dalam ekosistem pencarian berbasis AI, seperti AI Overview.
“Dengan kolaborasi dan pendistribusian informasi, berita di berbagai media, maka tentu saja punya potensi masuk dalam pencarian berbasis AI,” kata Bonar.
Meski demikian, Bonar mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam memproduksi konten, termasuk berita, tetap membutuhkan proses verifikasi. Menurutnya, AI hanya merupakan alat bantu dan tidak dapat menggantikan tanggung jawab jurnalistik.
“AI ini alat bantu saja, tetap butuh verifikasi. Karena pada akhirnya yang bertanggung jawab terhadap penulisnya, bukan AI,” tutur Bonar.






