Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina - plus62news

Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA BARAT — Nama Cengkareng lahir dari alam, lalu dibentuk oleh kekuasaan. Jauh sebelum menjadi kawasan padat penduduk, wilayah ini adalah hamparan rawa dan kebun yang dipenuhi pohon cangkring—asal-usul nama Cengkareng yang dalam arsip Belanda ditulis sebagai Tjengkareng.


“Cengkareng awalnya bukan kota. Ia wilayah agraris yang hidup dari tanah dan air,” kata sejarawan Betawi Alwi Shahab, menggambarkan kondisi kawasan barat Batavia sebelum kolonialisme menguat.


Perubahan besar terjadi saat VOC memperluas kendali. Cengkareng dimasukkan ke dalam Ommelanden van Batavia dan ditetapkan sebagai tanah partikelir, sistem kepemilikan pribadi yang memberi kekuasaan luas kepada pemilik tanah.

Baca Juga :  Benua Atlantis, Sebuah Misteri yang Belum Terkuak


Di atas lahan itulah berdiri sebuah rumah besar, dikenal sebagai Landhuis Tjengkareng. Rumah ini menjadi pusat administrasi sekaligus simbol kuasa tuan tanah atas ribuan hektare lahan dan ribuan penduduk.


Memasuki abad ke-18 dan 19, kepemilikan tanah Cengkareng beralih ke tuan tanah Cina. Mereka adalah elite Tionghoa yang diakui pemerintah Hindia Belanda dan memegang kuasa hampir feodal.


“Dalam sistem tanah partikelir, tuan tanah memiliki hak memungut pajak, mengatur sewa, bahkan mengendalikan kehidupan sosial penduduk,” tulis sejarawan Susan Blackburn dalam kajiannya tentang landheer di Batavia.

Baca Juga :  Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat Jeritan Sunyi dari Kali Tersakiti


Wilayah yang kini dikenal sebagai Pasar Cengkareng tumbuh dari denyut ekonomi tanah partikelir tersebut. Pasar menjadi pusat jual beli hasil kebun dan pertanian, sekaligus ruang pertemuan warga Betawi dan komunitas Cina Benteng.


Cerita tentang rumah tua milik tuan tanah Cina masih hidup dalam ingatan warga. Bangunan itu disebut sebagai tempat warga mengurus sewa tanah dan kewajiban pajak.
“Dulu orang kampung bilang, kalau urusan tanah, ya ke rumah besar orang Cina,” tutur H. Mahmud (78), warga lama Cengkareng.

Baca Juga :  Jejak Terakhir Wong Kalang di Jawa — Menghilang, Tapi Tidak Punah


Nama Lie Kian Tek, pengusaha Tionghoa, tercatat sebagai salah satu pemilik tanah Cengkareng pada masa akhir kolonial. Kekuasaan mereka berakhir setelah kemerdekaan, ketika sistem tuan tanah dihapus dan lahan dinasionalisasi.


Rumah besar itu kini lenyap. Pasar, jalan, dan permukiman menutup jejak fisiknya. Namun nama Cengkareng tetap menyimpan memori tentang pohon, tanah, dan kekuasaan yang pernah mengatur hidup banyak orang.


Sejarah itu menjadi pengingat: Jakarta dibangun bukan hanya dari beton, tetapi dari lapisan-lapisan masa lalu yang kerap terlupakan.

Berita Terkait

Gunung Tidar dan Sunyi yang Menjaga Jawa
Wong Kalang: Dari Tenaga Andalan Kerajaan hingga Omah Kalang dan Mitos Kesaktian
Jejak Terakhir Wong Kalang di Jawa — Menghilang, Tapi Tidak Punah
Simón Bolívar, El Libertador
Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang
Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat Jeritan Sunyi dari Kali Tersakiti
Benua Atlantis, Sebuah Misteri yang Belum Terkuak

Berita Terkait

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:24 WIB

Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:25 WIB

Wong Kalang: Dari Tenaga Andalan Kerajaan hingga Omah Kalang dan Mitos Kesaktian

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:03 WIB

Jejak Terakhir Wong Kalang di Jawa — Menghilang, Tapi Tidak Punah

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:19 WIB

Simón Bolívar, El Libertador

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:14 WIB

Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang

Berita Terbaru

Sejarah & Arkeologi

Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina

Selasa, 27 Jan 2026 - 21:24 WIB

Megapolitan

Koperasi Kelurahan Merah Putih Cempaka Baru Resmi Diluncurkan

Selasa, 27 Jan 2026 - 14:36 WIB

Megapolitan

Kenaikan UMR Bukan Menambah Kemakmuran, Justru Menyusahkan

Selasa, 27 Jan 2026 - 14:21 WIB

News

Syekh Subachir dan Penjinakan Tanah Jawa

Selasa, 27 Jan 2026 - 11:19 WIB