JAKARTA BARAT — Nama Cengkareng lahir dari alam, lalu dibentuk oleh kekuasaan. Jauh sebelum menjadi kawasan padat penduduk, wilayah ini adalah hamparan rawa dan kebun yang dipenuhi pohon cangkring—asal-usul nama Cengkareng yang dalam arsip Belanda ditulis sebagai Tjengkareng.
“Cengkareng awalnya bukan kota. Ia wilayah agraris yang hidup dari tanah dan air,” kata sejarawan Betawi Alwi Shahab, menggambarkan kondisi kawasan barat Batavia sebelum kolonialisme menguat.
Perubahan besar terjadi saat VOC memperluas kendali. Cengkareng dimasukkan ke dalam Ommelanden van Batavia dan ditetapkan sebagai tanah partikelir, sistem kepemilikan pribadi yang memberi kekuasaan luas kepada pemilik tanah.
Di atas lahan itulah berdiri sebuah rumah besar, dikenal sebagai Landhuis Tjengkareng. Rumah ini menjadi pusat administrasi sekaligus simbol kuasa tuan tanah atas ribuan hektare lahan dan ribuan penduduk.
Memasuki abad ke-18 dan 19, kepemilikan tanah Cengkareng beralih ke tuan tanah Cina. Mereka adalah elite Tionghoa yang diakui pemerintah Hindia Belanda dan memegang kuasa hampir feodal.
“Dalam sistem tanah partikelir, tuan tanah memiliki hak memungut pajak, mengatur sewa, bahkan mengendalikan kehidupan sosial penduduk,” tulis sejarawan Susan Blackburn dalam kajiannya tentang landheer di Batavia.
Wilayah yang kini dikenal sebagai Pasar Cengkareng tumbuh dari denyut ekonomi tanah partikelir tersebut. Pasar menjadi pusat jual beli hasil kebun dan pertanian, sekaligus ruang pertemuan warga Betawi dan komunitas Cina Benteng.
Cerita tentang rumah tua milik tuan tanah Cina masih hidup dalam ingatan warga. Bangunan itu disebut sebagai tempat warga mengurus sewa tanah dan kewajiban pajak.
“Dulu orang kampung bilang, kalau urusan tanah, ya ke rumah besar orang Cina,” tutur H. Mahmud (78), warga lama Cengkareng.
Nama Lie Kian Tek, pengusaha Tionghoa, tercatat sebagai salah satu pemilik tanah Cengkareng pada masa akhir kolonial. Kekuasaan mereka berakhir setelah kemerdekaan, ketika sistem tuan tanah dihapus dan lahan dinasionalisasi.
Rumah besar itu kini lenyap. Pasar, jalan, dan permukiman menutup jejak fisiknya. Namun nama Cengkareng tetap menyimpan memori tentang pohon, tanah, dan kekuasaan yang pernah mengatur hidup banyak orang.
Sejarah itu menjadi pengingat: Jakarta dibangun bukan hanya dari beton, tetapi dari lapisan-lapisan masa lalu yang kerap terlupakan.






