JAKARTA — Gagasan bahwa membunuh seorang pemimpin dapat sekaligus mematikan kepemimpinan dinilai sebagai kekeliruan mendasar. Pemimpin adalah “siapa”, sementara kepemimpinan adalah “apa” yang dipegangnya.
Dalam pandangan ini, individu hanyalah pemegang mandat. Ia bisa sakit, takut, bahkan mati. Namun prinsip, legitimasi, dan keyakinan yang menjadi dasar kepemimpinan tidak ikut terkubur bersama jasadnya.
“Membunuh pemimpin untuk menghancurkan kepemimpinan sama dengan memecahkan cermin untuk menghilangkan wajah,” tulis DR Muhsin Labib. Yang hancur hanya medianya, bukan substansinya.
Menurutnya, kepemimpinan tidak lahir dari darah atau nama keluarga, melainkan dari nilai dan kepercayaan kolektif yang telah ada sebelum sosok itu muncul dan tetap bertahan setelah ia tiada. Otoritas melekat pada sistem dan prinsip, bukan pada tubuh.
Karena itu, operasi yang menargetkan individu demi menumbangkan gagasan dinilai sebagai strategi yang keliru. Tubuh bisa disingkirkan, tetapi alasan orang mengikuti tidak mudah dihapus.
“Yang bisa dibunuh hanyalah pemegang otoritas; yang tidak bisa dibunuh adalah otoritas itu sendiri,” tegasnya.
—
DR Muhsin Labib






