Oleh: Jaya Suprana
Dalam sunyi jalan panjang yang membentang dari Texas menuju Washington, D.C., kesetiaan menjelma dalam sosok seekor anjing bernama Aloka.
Ia setia melangkah bersama sembilan belas bhikku yang menempuh Walk for Peace, perjalanan kaki lintas negara demi menyuarakan perdamaian, kasih sayang, dan welas asih.
Sejak 26 Oktober 2025, dari Fort Worth hingga target tiba pertengahan Februari 2026, rombongan ini menaklukkan jarak 20 hingga 30 mil setiap hari.
Di antara langkah-langkah hening para bhikku, Aloka hadir tanpa pamrih—menjadi sahabat, penjaga, sekaligus simbol kesetiaan yang menggugah ratusan ribu hati, tercermin dari lebih 210.000 pengikutnya di Facebook.
Kesetiaan Aloka seolah memanggil kembali gema legenda purba dari wiracarita Mahabharata, pada episod terakhir perjalanan Pandawa menuju Swargaloka.
Dikisahkan, Pandawa Lima bersama Drupadi berjalan kaki meninggalkan dunia fana. Namun satu demi satu gugur di jalan: Drupadi, Nakula, Sadewa, Arjuna, hingga Bima—masing-masing terhalang oleh sisa dosa duniawi.
Tinggallah Yudhistira, sosok yang teguh dalam kejujuran, ditemani seekor anjing yang sejak awal setia mengiringi langkahnya dari Hastinapura.
Tatkala Yudhistira tiba di gerbang Swargaloka, pintu langit tertutup rapat. Ia mengetuknya dengan harap akan mukhsa jiwa-raga menuju Nirwana. Batara Wisnu sendiri membuka gerbang dan berfirman tegas,
“Engkau boleh masuk, tetapi anjingmu tidak.”
Yudhistira terdiam—lalu menolak masuk. Dengan suara tulus namun tak tergoyahkan, ia berkata bahwa anjing itulah satu-satunya yang setia hingga akhir, saat saudara dan istrinya telah lebih dulu meninggalkan dunia.
“Jika ia tak diperkenankan masuk,” ujar Yudhistira, “aku akan menemaninya di luar, sebagaimana ia telah menemaniku sepanjang perjalanan.”
Maka langit pun terbuka. Bidadari menurunkan bunga. Anjing itu menjelma ke wujud sejatinya—Batara Dharma. Dua dewa utama menyambut Yudhistira dengan hormat dan mempersilakannya masuk ke Swargaloka.
Bagi saya, inilah puncak sukma terluhur Mahabharata: kesetiaan yang saling membalas, tanpa syarat, tanpa pamrih. Dan gema nilai itulah yang kini hidup kembali dalam kisah Aloka—anjing “ajaib” berbulu coklat muda dengan tanda putih berbentuk hati di kepalanya—yang setia menyertai sembilan belas bhikku dalam Walk for Peace. Dari legenda purba hingga jalan raya Amerika, kesetiaan tetap berbicara dengan bahasa yang sama: sunyi, teguh, dan abadi.






