Oleh Jaya Suprana
Amerika Serikat kerap dipuji sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, termasuk kebebasan beragama. Namun, pujian itu tak sepenuhnya tercermin dalam peristiwa yang dialami seekor anjing jalanan asal Kolkata bernama Aloka dan 19 bhikku yang menempuh perjalanan Walk for Peace dari Fort Worth menuju Washington, D.C.
Dalam perjalanan melintasi South Carolina, rombongan bhikku beberapa kali dihadang sekelompok orang yang mengaku sebagai umat Kristen. Dengan membawa spanduk dan meneriakkan yel-yel, mereka menuduh para bhikku menyebarkan ajaran sesat di Amerika Serikat. Kutukan pun dilontarkan: para pejalan damai itu disebut akan masuk neraka.
Para bhikku menanggapi penghadangan tersebut dengan tenang. Mereka menjelaskan bahwa Walk for Peace bukanlah misi penyebaran agama, melainkan perjalanan untuk menyampaikan pesan perdamaian dan kasih sayang. Nilai yang mereka bawa, kata para bhikku, sejatinya sejalan dengan ajaran Yesus Kristus—kasih kepada sesama—yang dalam Buddhisme dikenal sebagai metta.
Di tengah ketegangan itu, Aloka justru menjadi simbol paling hidup. Anjing kecil tersebut menggonggong ke arah para penghadang, seolah ikut berdialog dalam caranya sendiri. Ironisnya, tak lama setelah insiden tersebut, jemaat gereja dari sekte lain justru menyambut rombongan bhikku dengan ramah. Mereka dipersilakan bermalam serta menikmati makan dan minum di gereja mereka.
Pengalaman itu kontras dengan apa yang lazim terjadi di Indonesia. Setiap tahun, para bhikku dari Thailand berjalan kaki menuju Candi Borobudur dalam tradisi tudong untuk merayakan Waisak. Di sepanjang perjalanan, hampir tak pernah terdengar penghadangan bernada kutukan. Sebaliknya, para bhikku kerap disambut dan bahkan dipersilakan bermalam di masjid maupun gereja ketika tidak tersedia vihara.
Perbandingan ini memberi pelajaran penting. Kerukunan umat beragama di Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari yang hidup di tengah masyarakat. Sebuah peradaban toleransi yang, dalam banyak hal, justru tampak lebih matang dibandingkan sikap sebagian kecil warga di negara yang kerap mengklaim diri sebagai penjaga demokrasi dan HAM.
Kisah Aloka dan para bhikku mengingatkan bahwa toleransi bukan ditentukan oleh kemajuan ekonomi atau kekuatan global, melainkan oleh kerendahan hati untuk menerima perbedaan. Dan dalam kisah ini, seekor anjing jalanan justru tampil sebagai saksi paling jujur tentang arti perdamaian.






