JAKARTA — Puasa memerintahkan kita untuk merasakan lapar orang lain. Saat menahan diri dari makan dan minum di siang hari, kita disentuh sedikit oleh kesulitan mereka yang kekurangan. Bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman, merasakan lapar adalah hal yang sulit.
Dari pengalaman itu, hati kita belajar bersyukur, peduli, dan menumbuhkan empati bagi mereka yang lapar.
Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling dasar. Jika kita mampu menahan diri dari apa yang menjadi hak kita sendiri, mengapa harus mengambil hak orang lain.
Ini adalah pelajaran sederhana tapi kuat: kekuatan hati bukan soal apa yang kita makan atau minum, tapi tentang menghormati batas, menghargai hak, dan hidup dengan kesadaran moral.
Puasa memerintahkan kita untuk kuat menahan diri dari hal-hal yang boleh kita nikmati—makanan, minuman, bahkan hubungan dengan istri yang sah. Latihan ini mengajarkan kesabaran, disiplin, dan pengendalian hawa nafsu, membentuk karakter yang mampu menolak godaan sesaat demi kebaikan yang lebih besar.
Dengan menahan diri, hati kita perlahan menjadi lebih peka terhadap ketidakadilan dan penderitaan orang lain.
Selain itu, puasa menanamkan empati dan kesadaran moral. Setiap rasa lapar menjadi cermin bagi penderitaan mereka yang kekurangan. Kita diingatkan bahwa berbagi dan menghormati hak orang lain bukan sekadar kewajiban, tapi bagian dari hidup yang bermakna dan penuh kasih.
Akhirnya, puasa memerintahkan kita untuk mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menebar kebaikan. Ia bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi latihan hati dan karakter—agar hidup lebih penuh empati, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Dari sini, setiap tindakan kita menjadi cerminan dari hati yang terlatih, kuat, dan peduli.






