History – Nama Lord Rangga mungkin telah lama hilang dari panggung publik, namun kata-katanya masih kerap muncul kembali. Potongan video lama beredar, ucapannya dikutip ulang, seolah ia sedang berbicara pada situasi hari ini. Padahal konteksnya sudah jauh berbeda.
Di antara banyak pernyataannya, satu istilah yang paling sering muncul adalah Sundaland. Berbeda dengan klaim-klaim lain yang sensasional, Sundaland bukanlah karangan. Dalam kajian geologi, wilayah ini memang pernah ada—sebuah daratan purba yang menyatukan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya sebelum tenggelam akibat naiknya permukaan laut ribuan tahun lalu.
Di titik ini, Lord Rangga tidak sepenuhnya salah.
Masalahnya bukan pada penyebutan Sundaland, melainkan pada cara ia dimaknai. Fakta ilmiah itu ditarik terlalu jauh, dibungkus klaim kejayaan, lalu dihubungkan dengan narasi kekuasaan global. Dari sinilah batas antara pengetahuan dan tafsir mulai kabur.
Namun menariknya, kata-kata itu tetap menemukan pendengar.
Bukan karena publik mudah tertipu, melainkan karena sejarah Nusantara sendiri jarang dijelaskan secara utuh. Sundaland dikenal di ruang akademik, tetapi nyaris absen dalam pendidikan populer. Ia tidak hadir sebagai cerita manusia—tentang adaptasi, kehilangan, dan perubahan alam—melainkan tenggelam bersama daratan yang hilang itu sendiri.
Dalam ruang kosong itulah narasi alternatif tumbuh.
Hari ini, relevansinya terasa semakin nyata. Ketika perubahan iklim membuat pesisir tergerus, banjir rob makin sering terjadi, dan kampung-kampung perlahan tenggelam, kisah Sundaland tak lagi terasa jauh. Ia menjadi pengingat bahwa Nusantara memang dibentuk oleh perubahan alam yang keras.
Lord Rangga membaca kegelisahan itu, meski menafsirkannya dengan cara yang keliru.
Klaim tentang kekaisaran dunia dan legitimasi politik masa lalu memang tak didukung bukti sejarah. Namun kegelisahan yang melatarinya—tentang identitas, tentang rasa “pernah ada”—masih hidup hingga hari ini.
Lord Rangga bukan kebenaran, tapi gejala.
Sundaland bukan mitos, tapi pelajaran.
Pelajaran bahwa sejarah yang tidak dijelaskan dengan baik akan selalu dicari lewat jalan pintas. Dan selama pengetahuan berhenti di ruang akademik, sementara publik dibiarkan menebak-nebak asal-usulnya sendiri, kisah seperti ini akan terus berulang—dengan tokoh yang berbeda, di zaman yang berbeda.






