Sundaland, dan Kebenaran yang Tak Pernah Sederhana - Plus62.co

Sundaland, dan Kebenaran yang Tak Pernah Sederhana

- Jurnalis

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tahun terbit: ~1700
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Nicolas Sanson, pembuat peta berbahasa Perancis ini, adalah bapak kartografi Perancis yang wafat di tahun 1667. Peta ini dikeluarkan di Amsterdam di sekitar tahun 1700, dengan judul dalam bahasa Belanda De eilanden van Sunda, yang mengesankan bahwa judul aslinya

Tahun terbit: ~1700 Tempat terbit: Amsterdam Tokoh: Deskripsi: Nicolas Sanson, pembuat peta berbahasa Perancis ini, adalah bapak kartografi Perancis yang wafat di tahun 1667. Peta ini dikeluarkan di Amsterdam di sekitar tahun 1700, dengan judul dalam bahasa Belanda De eilanden van Sunda, yang mengesankan bahwa judul aslinya "diedit" setelah Sanson meninggal. Terlepas dari hal itu, peta ini mencerminkan pemahaman para pakar geografi dan kartografi waktu itu bahwa tiga pulau besar di bagian barat Nusantara dikelmpokkan ke nama "Kepulauan Sunda", suatu istilah yang sekarang jarang dipakai, digeser oleh istilah "Sundaland" untuk menyebut wilayah Asia Tenggara zaman dulu ketika masih menyatu sebagai daratan dengan benua Asia. Hal lain yang bisa dicatat dari peta ini adalah pemakaian kata "Borneo" untuk Brunei, yang tampaknya berujung pada nama Borneo di dunia internasional untuk pulau yang kita sebut Kalimantan. Juru kartografi: berdasarkan karya Nicolas Sanson Sumber / Hak cipta: Indies Gallery

History – Nama Lord Rangga mungkin telah lama hilang dari panggung publik, namun kata-katanya masih kerap muncul kembali. Potongan video lama beredar, ucapannya dikutip ulang, seolah ia sedang berbicara pada situasi hari ini. Padahal konteksnya sudah jauh berbeda.


Di antara banyak pernyataannya, satu istilah yang paling sering muncul adalah Sundaland. Berbeda dengan klaim-klaim lain yang sensasional, Sundaland bukanlah karangan. Dalam kajian geologi, wilayah ini memang pernah ada—sebuah daratan purba yang menyatukan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya sebelum tenggelam akibat naiknya permukaan laut ribuan tahun lalu.

Baca Juga :  Wangi Tak Terlihat dan Langit yang Terbelah di Malam Selasa Kliwon Gunung Padang


Di titik ini, Lord Rangga tidak sepenuhnya salah.


Masalahnya bukan pada penyebutan Sundaland, melainkan pada cara ia dimaknai. Fakta ilmiah itu ditarik terlalu jauh, dibungkus klaim kejayaan, lalu dihubungkan dengan narasi kekuasaan global. Dari sinilah batas antara pengetahuan dan tafsir mulai kabur.
Namun menariknya, kata-kata itu tetap menemukan pendengar.


Bukan karena publik mudah tertipu, melainkan karena sejarah Nusantara sendiri jarang dijelaskan secara utuh. Sundaland dikenal di ruang akademik, tetapi nyaris absen dalam pendidikan populer. Ia tidak hadir sebagai cerita manusia—tentang adaptasi, kehilangan, dan perubahan alam—melainkan tenggelam bersama daratan yang hilang itu sendiri.

Baca Juga :  Gunung Tidar dan Sunyi yang Menjaga Jawa


Dalam ruang kosong itulah narasi alternatif tumbuh.


Hari ini, relevansinya terasa semakin nyata. Ketika perubahan iklim membuat pesisir tergerus, banjir rob makin sering terjadi, dan kampung-kampung perlahan tenggelam, kisah Sundaland tak lagi terasa jauh. Ia menjadi pengingat bahwa Nusantara memang dibentuk oleh perubahan alam yang keras.


Lord Rangga membaca kegelisahan itu, meski menafsirkannya dengan cara yang keliru.
Klaim tentang kekaisaran dunia dan legitimasi politik masa lalu memang tak didukung bukti sejarah. Namun kegelisahan yang melatarinya—tentang identitas, tentang rasa “pernah ada”—masih hidup hingga hari ini.

Baca Juga :  Wong Kalang: Dari Tenaga Andalan Kerajaan hingga Omah Kalang dan Mitos Kesaktian


Lord Rangga bukan kebenaran, tapi gejala.
Sundaland bukan mitos, tapi pelajaran.
Pelajaran bahwa sejarah yang tidak dijelaskan dengan baik akan selalu dicari lewat jalan pintas. Dan selama pengetahuan berhenti di ruang akademik, sementara publik dibiarkan menebak-nebak asal-usulnya sendiri, kisah seperti ini akan terus berulang—dengan tokoh yang berbeda, di zaman yang berbeda.

Berita Terkait

Pahlawan Banjar, Panglima Wangkang: Darah Bakumpai yang Menolak Tunduk
Arca Domas: Dua Titik Sakral Dunia
Tokoh Muda Aceh Soroti Pengabaian Sejarah Aceh Gayo
Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina
Gunung Tidar dan Sunyi yang Menjaga Jawa
Wong Kalang: Dari Tenaga Andalan Kerajaan hingga Omah Kalang dan Mitos Kesaktian
Jejak Terakhir Wong Kalang di Jawa — Menghilang, Tapi Tidak Punah
Simón Bolívar, El Libertador

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 20:34 WIB

Pahlawan Banjar, Panglima Wangkang: Darah Bakumpai yang Menolak Tunduk

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:21 WIB

Sundaland, dan Kebenaran yang Tak Pernah Sederhana

Senin, 2 Februari 2026 - 18:23 WIB

Arca Domas: Dua Titik Sakral Dunia

Senin, 2 Februari 2026 - 11:17 WIB

Tokoh Muda Aceh Soroti Pengabaian Sejarah Aceh Gayo

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:24 WIB

Cengkareng: Dari Nama Pohon ke Kekuasaan Tuan Tanah Cina

Berita Terbaru

Nasional

Siklon Tropis dan Pemanasan Global Perparah Bencana Sumatra

Selasa, 10 Feb 2026 - 13:23 WIB

Kolom

HPN: Lebarannya Wartawan, Pesta Besar Insan Pers

Senin, 9 Feb 2026 - 08:36 WIB

Sumber Instagram @kesultananbanjar_official

Sejarah & Arkeologi

Pahlawan Banjar, Panglima Wangkang: Darah Bakumpai yang Menolak Tunduk

Minggu, 8 Feb 2026 - 20:34 WIB