Puasa : Jika Mampu Menahan Diri dari Hak kita, Buat Apa Mengambil Hak Orang Lain - Plus62.co

Puasa : Jika Mampu Menahan Diri dari Hak kita, Buat Apa Mengambil Hak Orang Lain

- Jurnalis

Sabtu, 28 Februari 2026 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber poto : https://pxhere.com/id/photo/973376

Sumber poto : https://pxhere.com/id/photo/973376

JAKARTA — Puasa memerintahkan kita untuk merasakan lapar orang lain. Saat menahan diri dari makan dan minum di siang hari, kita disentuh sedikit oleh kesulitan mereka yang kekurangan. Bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman, merasakan lapar adalah hal yang sulit.

Dari pengalaman itu, hati kita belajar bersyukur, peduli, dan menumbuhkan empati bagi mereka yang lapar.


Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa adalah latihan pengendalian diri yang paling dasar. Jika kita mampu menahan diri dari apa yang menjadi hak kita sendiri, mengapa harus mengambil hak orang lain.

Baca Juga :  Umat Buddha DKI Jakarta Dhammayatra di Candi Borobudur.

Ini adalah pelajaran sederhana tapi kuat: kekuatan hati bukan soal apa yang kita makan atau minum, tapi tentang menghormati batas, menghargai hak, dan hidup dengan kesadaran moral.


Puasa memerintahkan kita untuk kuat menahan diri dari hal-hal yang boleh kita nikmati—makanan, minuman, bahkan hubungan dengan istri yang sah. Latihan ini mengajarkan kesabaran, disiplin, dan pengendalian hawa nafsu, membentuk karakter yang mampu menolak godaan sesaat demi kebaikan yang lebih besar.

Baca Juga :  Sejarah Dalam Tradisi Islam, Makna dan Tujuan Kegiatan Kurban

Dengan menahan diri, hati kita perlahan menjadi lebih peka terhadap ketidakadilan dan penderitaan orang lain.


Selain itu, puasa menanamkan empati dan kesadaran moral. Setiap rasa lapar menjadi cermin bagi penderitaan mereka yang kekurangan. Kita diingatkan bahwa berbagi dan menghormati hak orang lain bukan sekadar kewajiban, tapi bagian dari hidup yang bermakna dan penuh kasih.

Baca Juga :  Anjing, Manusia, dan Makna Setia


Akhirnya, puasa memerintahkan kita untuk mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menebar kebaikan. Ia bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi latihan hati dan karakter—agar hidup lebih penuh empati, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Dari sini, setiap tindakan kita menjadi cerminan dari hati yang terlatih, kuat, dan peduli.

Berita Terkait

Natal Bersama PWI Pusat, Perkuat Iman dan Kebersamaan Wartawan
Aloka dan Ujian Toleransi
Anjing, Manusia, dan Makna Setia
WALUBI Jakarta gelar Kegiatan Dhamma Camp di Purwakarta
Wali Kota Jakpus Hadiri Malam Reuni 212 di Silang Monas
WALUBI DKI Jakarta Siapkan Pandita dan Dharmaduta Berkarakter untuk Menyebarkan Dharma dan Menjaga Kerukunan
Rakerda WALUBI DKI Jakarta Rumuskan Aksi Nyata: Moderasi, Ekonomi, dan Kesejahteraan Umat Buddha Jakarta
Umat Buddha DKI Jakarta Dhammayatra di Candi Borobudur.

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 14:07 WIB

Puasa : Jika Mampu Menahan Diri dari Hak kita, Buat Apa Mengambil Hak Orang Lain

Kamis, 22 Januari 2026 - 13:27 WIB

Natal Bersama PWI Pusat, Perkuat Iman dan Kebersamaan Wartawan

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:53 WIB

Aloka dan Ujian Toleransi

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:16 WIB

Anjing, Manusia, dan Makna Setia

Selasa, 9 Desember 2025 - 11:15 WIB

WALUBI Jakarta gelar Kegiatan Dhamma Camp di Purwakarta

Berita Terbaru