SINGAPURA – Kabar duka datang dari jantung dunia usaha nasional. Konglomerat pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026, di Singapura.
Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.15 waktu setempat dalam usia 86 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan figur, tetapi menjadi penanda kuat bahwa satu generasi penguasa ekonomi Indonesia perlahan berpulang.
“Beliau adalah simbol ketekunan dan konsistensi dalam membangun bisnis dari hulu ke hilir. Indonesia kehilangan salah satu pilar penting dalam dunia usaha,” ujar seorang pelaku industri yang enggan disebutkan namanya.
Selama puluhan tahun, Michael Bambang Hartono dikenal sebagai arsitek konglomerasi terbesar di Tanah Air. Dari industri rokok hingga sektor keuangan melalui , jejak bisnisnya membentuk lanskap ekonomi nasional.
Di balik kekuatan bisnisnya, ia juga dikenal aktif dalam kegiatan filantropi melalui . Berbagai program di bidang pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya menjadi bagian dari kontribusinya bagi masyarakat.
“Wafatnya beliau bukan hanya duka bagi dunia bisnis, tapi juga momentum refleksi. Kita sedang menyaksikan pergeseran generasi dalam peta kekuatan ekonomi Indonesia,” kata pengamat ekonomi.
Kepergiannya mempertegas perubahan zaman. Dominasi konglomerat lama yang selama ini menguasai sektor strategis kini mulai meredup, membuka ruang bagi generasi baru dan wajah baru kekuatan ekonomi Indonesia.






