JAKARTA — Hari-hari Zuhria Novianty berjalan cepat. Pagi dimulai dengan pasien, siang diisi tanggung jawab medis, dan malam sering kali masih menyisakan pekerjaan yang belum selesai.

Di balik jas dokter yang ia kenakan, ada satu sisi dirinya yang lama sempat terdiam.
Sampai suatu hari, ia kembali memegang benang.
Bukan tanpa alasan. Di tengah ritme hidup yang terus berlari, Zuhria mulai merasakan kebutuhan sederhana: berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk kembali mendengar dirinya sendiri.
Benang demi benang ia rangkai perlahan.
Tak ada target. Tak ada tekanan. Hanya gerakan kecil yang berulang—namun justru di situlah ia menemukan ketenangan yang selama ini terasa jauh.
Sejak kecil, Zuhria memang akrab dengan dunia keterampilan tangan. Ia pernah membuat berbagai kerajinan secara otodidak, dari yang sederhana hingga yang membutuhkan ketelatenan. Namun, seiring waktu dan pilihan hidup yang membawanya ke dunia kedokteran, semua itu sempat tertinggal.
Hidup kemudian berjalan cepat.
Ia menjadi dokter. Menjadi istri. Menjadi ibu.
Peran demi peran hadir, membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang tak ringan. Di titik itu, tanpa ia sadari, ruang untuk dirinya sendiri perlahan menghilang.
Hingga akhirnya ia kembali merajut.
Dan dari aktivitas sederhana itu, Zuhria menemukan sesuatu yang tidak ia dapatkan di ruang praktik: jeda.
“Merajut itu seperti berbicara dengan diri sendiri,” katanya pelan.
Setiap simpul seolah menjadi cara untuk merapikan pikiran. Setiap hasil yang terbentuk mengingatkannya bahwa proses, sekecil apa pun, tetap punya arti.
Kini, merajut bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia menjadi ruang sunyi yang justru paling bermakna. Tempat Zuhria menyeimbangkan hidup—antara tuntutan profesional dan kebutuhan personal.
Kisahnya sederhana, namun relevan bagi banyak orang: bahwa di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, ada nilai dalam berhenti sejenak.
Dan kadang, ketenangan itu tidak datang dari hal besar.
Cukup dari seutas benang, dan waktu yang kita berikan untuk diri sendiri.






