MAGELANG – Pagi di Gunung Tidar selalu datang pelan. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara Kota Magelang mulai bergerak di bawah sana. Dari kejauhan, tak ada yang istimewa. Hanya sebuah bukit di tengah kota. Tapi bagi sebagian orang Jawa, di sinilah sesuatu yang besar dijaga dalam diam.
Gunung Tidar dipercaya sebagai Pakuning Tanah Jawi—paku yang menahan Pulau Jawa agar tetap seimbang. Bukan secara geografis, melainkan secara batin.
“Kalau pakunya goyah, manusianya yang rusak,” begitu ujaran yang sering beredar di kalangan sesepuh.
Gerbang yang Pernah Liar
Kisah lama menyebutkan, sebelum paku itu tertanam, Jawa bukan tanah yang tenang. Energi diyakini bergerak tanpa aturan. Makhluk halus bebas melintas. Manusia sering sakit tanpa sebab, mudah marah, dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Gunung Tidar dipercaya sebagai simpul dari semua lintasan itu.
Bukan tempat kejahatan, melainkan gerbang pertemuan alam kasatmata dan yang tak terlihat.
Di titik inilah keseimbangan dianggap pernah berada di ambang runtuh.
Syekh Subakir dan Laku Sunyi
Nama Syekh Subakir selalu disebut ketika orang bicara tentang Tidar.
Ulama dari tanah Persia itu datang ke Jawa bukan membawa pasukan, melainkan membawa laku.
Ia bertirakat di puncak gunung. Berhari-hari. Dalam diam.
Konon, pada malam penancapan paku gaib, suasana berubah. Angin berputar tanpa hujan. Binatang turun dari hutan. Gunung seperti bernapas, lalu kembali sunyi.
Tak ada suara keras.
Tak ada gempa.
Namun sejak saat itu, kisah-kisah tentang gangguan berkurang. Makhluk gaib tidak diusir, melainkan diikat aturan. Mereka tetap ada, tapi tidak lagi melampaui batas.
Bagi orang Jawa, inilah puncak kebijaksanaan: menata, bukan memusnahkan.
Gunung yang Tidak Pernah Kosong
Hingga hari ini, Gunung Tidar diyakini tak pernah benar-benar sepi. Pendaki malam kerap menceritakan pengalaman serupa: suara langkah kaki yang mengikuti, bayangan yang berdiri diam di bawah pohon, atau perasaan diawasi tanpa rasa takut.
“Kalau niatnya baik, aman,” kata warga sekitar.
“Kalau niatnya sombong, biasanya pulangnya berat.”
Gunung ini, kata mereka, menguji niat sebelum menguji nyali.
Petilasan dan Jejak Makna
Di kawasan Tidar terdapat petilasan Syekh Subakir, Kyai Sepanjang, dan Kyai Semar. Bagi peziarah, tempat-tempat ini bukan sekadar tujuan, melainkan pengingat.
Kyai Sepanjang dimaknai sebagai perjalanan hidup manusia yang panjang dan melelahkan.
Kyai Semar sebagai simbol kebijaksanaan dan kerendahan hati.
Tak ada ritual besar. Tak ada suara lantang.
Yang ada hanya duduk, diam, dan berdialog dengan diri sendiri.






