Yogyakarta — Jauh sebelum dikenal sebagai saudagar kaya di Kota Gede, Wong Kalang telah memainkan peran penting sejak era kerajaan Jawa. Dalam struktur kekuasaan kuno, mereka bukan bagian dari bangsawan atau priyayi keraton, melainkan tenaga andalan kerajaan yang menjalankan fungsi-fungsi strategis di luar lingkar elite.
Sejumlah sumber sejarah dan kajian antropologi menyebut Wong Kalang digunakan kerajaan sebagai pekerja ahli. Mereka mengelola hutan, mengerjakan kayu, membangun bangunan berat, serta menangani pekerjaan teknis yang membutuhkan ketahanan fisik dan keterampilan khusus. Peran ini membuat Wong Kalang berada dekat dengan kepentingan kerajaan, namun tetap ditempatkan di wilayah pinggiran.
Pada masa kerajaan Hindu–Budha hingga Mataram Islam, Wong Kalang juga dikenal sebagai penyedia tenaga logistik dan penunjang infrastruktur. Mereka dilibatkan dalam pembangunan permukiman, lumbung, hingga jalur distribusi hasil bumi. Dalam struktur sosial Jawa, Wong Kalang berfungsi sebagai kelompok fungsional, bukan simbolik. Mereka dibutuhkan, tetapi tidak diangkat statusnya.
Kedekatan fungsional tanpa pengakuan sosial ini membentuk karakter Wong Kalang sebagai komunitas tertutup dan disiplin. Mereka hidup berkelompok, menjaga rahasia internal, serta membangun sistem kerja yang kuat. Pola ini bertahan lintas generasi dan menjadi fondasi ketahanan sosial Wong Kalang.
Memasuki masa Mataram Islam akhir dan kolonial, fungsi Wong Kalang bergeser. Ketika kerajaan melemah dan ekonomi uang menguat, Wong Kalang memanfaatkan keterampilan dan jaringan kerja mereka untuk masuk ke perdagangan dan permodalan. Di Kota Gede, mereka berkembang menjadi saudagar dan pemodal perak, menguasai sektor ekonomi yang tidak disentuh langsung oleh elite politik.
Warisan paling nyata dari fase ini adalah Omah Kalang—rumah-rumah besar bertembok tinggi dengan arsitektur campuran Jawa dan Eropa. Bangunan ini mencerminkan keberhasilan ekonomi sekaligus sisa pola hidup lama yang mengutamakan perlindungan dan jarak sosial. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam konteks ini adalah B.H. Noerijah, dikenal sebagai Tembong, figur penting Wong Kalang di awal abad ke-20.
Di luar Kota Gede, jejak Wong Kalang juga ditemukan dalam bentuk makam-makam kuno di sejumlah wilayah Jawa Timur. Pola pemakaman yang berbeda dari tradisi umum memperkuat dugaan bahwa komunitas ini telah memiliki sistem nilai sendiri sejak masa kerajaan, jauh sebelum identitas sosial mereka melebur.
Dari karya-karya fisik itulah kemudian tumbuh mitos kesaktian Wong Kalang. Mereka digambarkan kebal, memiliki kekayaan gaib, dan rumah-rumahnya dianggap angker. Namun, kajian sejarah tidak menemukan bukti praktik kebatinan khusus. Mitos tersebut lebih lahir dari peran strategis mereka di masa kerajaan, keberhasilan ekonomi di masa kolonial, serta sifat tertutup yang sulit diakses masyarakat luar.
Seiring runtuhnya kerajaan dan perubahan sosial pascakemerdekaan, Wong Kalang menghilang sebagai identitas. Keturunan mereka melebur ke dalam masyarakat Jawa umum, meninggalkan nama dan status. Yang tertinggal adalah karya, bangunan, dan cerita.
Kisah Wong Kalang menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat menjadi tulang punggung kerajaan, lalu bangkit sebagai kekuatan ekonomi, sebelum akhirnya lenyap dari peta sosial. Dalam ruang yang ditinggalkan itulah mitos tumbuh, menutupi kenyataan bahwa Wong Kalang pada dasarnya adalah kelompok pekerja ahli dan pengelola sumber daya yang membentuk sejarah Jawa dari balik layar.






