Ketika Uang Tak Lagi Datang dari Kerja, Kritik Imam Khamenei terhadap Kekayaan Instan - Plus62.co

Ketika Uang Tak Lagi Datang dari Kerja, Kritik Imam Khamenei terhadap Kekayaan Instan

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, PLUS62.CO — Kritik Imam Khamenei terhadap budaya kekayaan instan kembali relevan di tengah persoalan ketimpangan dan korupsi yang masih menjadi tantangan banyak negara.

Gagasan yang disampaikan cukup sederhana: pendapatan idealnya memiliki hubungan dengan usaha, produktivitas, dan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat.

Imam Khamenei merujuk pada prinsip Al-Qur’an, لَیسَ لِلاِنسانِ اِلّا ما سَعیٰ, yang berarti manusia memperoleh apa yang telah diusahakannya.

Baca Juga :  Klarifikasi Hukum: Pembongkaran di Lahan Terminal Sentiong Balaraja Bukan Pengrusakan, tapi Pembangunan Masjid Agung At-Taubah

Menurut pandangan tersebut, persoalan muncul ketika seseorang mendapatkan kekayaan bukan karena produktivitas, melainkan karena koneksi, akses, perantara, suap, atau perlakuan istimewa.

Kondisi itu berisiko mengubah cara masyarakat memandang kerja keras.

Jika koneksi dianggap lebih menguntungkan daripada kemampuan, sementara akses kepada kekuasaan lebih bernilai dibanding produktivitas, maka kepercayaan terhadap sistem ekonomi dapat ikut melemah.

Kritik tersebut juga berkaitan erat dengan persoalan korupsi. Pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku, tetapi juga perlu membenahi sistem yang memungkinkan praktik suap, rente, dan penyalahgunaan kewenangan terus terjadi.

Baca Juga :  IKWI DKI Jakarta Gelar Silaturahmi Perdana di Luar Kota

Imam Khamenei pernah menggambarkan korupsi seperti naga berkepala tujuh. Memotong satu kepala tidak otomatis membuat persoalan selesai karena masih terdapat berbagai bentuk dan jaringan korupsi lainnya.

Karena itu, membangun ekonomi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar penindakan hukum.

Masyarakat perlu memiliki budaya yang menghargai kerja, kreativitas, kemampuan, dan produktivitas. Kekayaan tidak semestinya hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari bagaimana kekayaan tersebut diperoleh.

Baca Juga :  Kesbangpol dan PWI Jakarta Pusat Sinergi untuk Sosialisasikan Program

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak seseorang memiliki uang, melainkan dari mana uang tersebut berasal.

Dari kerja dan produktivitas, atau dari koneksi dan keistimewaan?

Pertanyaan sederhana itu menjadi penting untuk membangun sistem ekonomi yang lebih adil, sehat, dan dipercaya masyarakat.

Berita Terkait

Bimbel Mingguan BPAY Dorong Anak Yatim Raih Cita-Cita
Jelang Pilkades Sontang 2026, Warga Soroti Netralitas Panitia, Pengawas dan Dugaan Mobilisasi
Ketua KI DKI: Saatnya Mahasiswa Kritisi Dominasi Fraksi di Parlemen, Hambat Demokrasi Substantif
Dua Transfer Tanpa Persetujuan, Rp273 Juta dari Rekening Suwito Mengarah ke MNC Bank
11,31 Kg Emas Hendak Dibawa ke Singapura, BCW: Telusuri Siapa Pemiliknya
Posyandu Melati 2 Duri Pulo Masuk Penilaian osyandu Berprestasi Tingkat Nasional
BKPRMI DKI Dorong Remaja Masjid Jadi Entrepreneur
Ritual Satanik pada Maulid Nabi di Pekalongan, Di Mana Pengawasan?

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:06 WIB

Bimbel Mingguan BPAY Dorong Anak Yatim Raih Cita-Cita

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:49 WIB

Jelang Pilkades Sontang 2026, Warga Soroti Netralitas Panitia, Pengawas dan Dugaan Mobilisasi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:07 WIB

Ketua KI DKI: Saatnya Mahasiswa Kritisi Dominasi Fraksi di Parlemen, Hambat Demokrasi Substantif

Rabu, 30 September 2026 - 15:12 WIB

Dua Transfer Tanpa Persetujuan, Rp273 Juta dari Rekening Suwito Mengarah ke MNC Bank

Selasa, 29 September 2026 - 14:35 WIB

11,31 Kg Emas Hendak Dibawa ke Singapura, BCW: Telusuri Siapa Pemiliknya

Berita Terbaru

Megapolitan

Bimbel Mingguan BPAY Dorong Anak Yatim Raih Cita-Cita

Minggu, 4 Okt 2026 - 12:06 WIB