Kenaikan UMR Bukan Menambah Kemakmuran, Justru Menyusahkan - Plus62.co

Kenaikan UMR Bukan Menambah Kemakmuran, Justru Menyusahkan

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang diberlakukan di berbagai daerah dinilai belum mampu meningkatkan kemakmuran masyarakat. Alih-alih memperbaiki kesejahteraan, kebijakan ini justru memunculkan tekanan baru akibat lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup.


Bagi pekerja sektor formal, kenaikan UMR memang menambah pendapatan secara nominal. Namun, inflasi yang menyertai membuat tambahan upah tersebut cepat tergerus. Harga pangan, sewa tempat tinggal, transportasi, hingga biaya pendidikan terus meningkat, sehingga daya beli masyarakat nyaris tidak berubah.

Baca Juga :  Program Gizi Nasional Ternoda, Yayasan Al Rahim Al Islami Dituding Tutupi Fakta Soal Makanan Basi


Kondisi lebih berat dirasakan pekerja sektor informal. Kelompok ini tidak otomatis menikmati kenaikan UMR, tetapi tetap terdampak kenaikan harga barang dan jasa. Akibatnya, jarak kesejahteraan antara pekerja formal dan informal kian melebar.


Di sisi lain, pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) ikut tertekan. Kenaikan upah meningkatkan biaya produksi, sementara daya beli konsumen belum pulih sepenuhnya. Banyak pelaku usaha memilih menahan ekspansi, melakukan efisiensi tenaga kerja, hingga mengurangi jam operasional.

Baca Juga :  Listrik Andal PLN Kawal Kemenangan Garuda Muda 8-0 atas Brunei di Laga Pembuka AFF U-23


Pasca kenaikan UMR, pola konsumsi masyarakat juga berubah. Pengeluaran menjadi lebih selektif dan terfokus pada kebutuhan dasar. Belanja non-esensial ditekan, sementara cicilan dan biaya rutin menjadi prioritas utama rumah tangga.

Baca Juga :  BPN Jakarta Pusat Siap Bangun Sinergi dengan Pokja PWI Wali Kota Jakpus


Tekanan ekonomi tersebut mendorong sebagian masyarakat mencari instrumen penyelamat nilai kekayaan. Emas mulai dilirik sebagai alternatif simpanan karena dianggap lebih mampu bertahan dari gerusan inflasi dibandingkan uang tunai.


Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan UMR tanpa pengendalian harga dan peningkatan produktivitas berisiko menimbulkan efek semu. Upah naik di atas kertas, tetapi beban hidup masyarakat justru semakin berat.

Berita Terkait

Siwo Jaya Sediakan Hadiah Rp15 Juta pada Turnamen Biliar Antarwartawan dan Umum
Aylawati Sarwono dan Gary Pontillas Gatchalian Juara Asian Tango Championship 2026 di Tokyo
Transformasi KLASICK: Merajut Silaturahmi Menguatkan Visi
Arifin Minta Lurah Data Rumah Tangga Pemilah Sampah, Sanksi Dibahas Bersama Warga
Munjirin Dorong Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan UMKM
Arifin Sulap Jalan Sabang Jadi Ikon Wisata Kuliner Malam Jakarta
Wali Kota Jakarta Pusat Tinjau Pengungsian Korban Kebakaran Tanah Tinggi
Jesicca Firly Resmi Disumpah sebagai Advokat, Rurih: Tegakkan Hukum dengan Integritas
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:58 WIB

Siwo Jaya Sediakan Hadiah Rp15 Juta pada Turnamen Biliar Antarwartawan dan Umum

Senin, 15 Juni 2026 - 10:58 WIB

Aylawati Sarwono dan Gary Pontillas Gatchalian Juara Asian Tango Championship 2026 di Tokyo

Senin, 15 Juni 2026 - 10:45 WIB

Transformasi KLASICK: Merajut Silaturahmi Menguatkan Visi

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:00 WIB

Munjirin Dorong Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan UMKM

Jumat, 5 Juni 2026 - 19:41 WIB

Arifin Sulap Jalan Sabang Jadi Ikon Wisata Kuliner Malam Jakarta

Berita Terbaru

Megapolitan

Transformasi KLASICK: Merajut Silaturahmi Menguatkan Visi

Senin, 15 Jun 2026 - 10:45 WIB